Kamis, 11 Juni 2020

EX TOXIC RELANTIONSHIP


Saat itu adalah masa-masa awal di mana aku menikmati indahnya dunia perkuliahan, indahnya mengenal orang-orang baru, indahnya mengenal lebih jauh akan kota Samarinda, kota perantauanku. Saat itu juga aku memilih untuk tidak lagi menggunakan kain panjang dan lebar yang menutupi seluruh tubuhku, kecuali wajah. Aku lebih memilih menggunakan kerudung segi empat di kepalaku. Keputusan itu kubuat saat setelah berbulan-bulan aku memikirkanya.
Masa orientasi perkuliahanku telah berakhir. Selama masa orientasi perkuliahan pula aku mendapatkan kawan baru yang juga akan menjadi kawan satu kamar kosku. Dia Lia, gadis berkulit putih pucat dengan rambut indahnya yang selalu terurai. Beberapa hari yang lalu Lia berkata padaku bahwa ia ingin mencari kos yang hanya butuh berjalan kaki saja untuk menuju kampus, sehingga aku pun yang dengan semangatnya menawarkan kepada Lia untuk sekamar denganku, kebetulan juga aku satu kelas dengannya. Dan kami memutuskan untuk selalu berangkat kuliah bersama-sama nantinya.  
Di akhir semester pertama, aku menjalin hubungan dengan Hans. Dia merupakan salah satu orang dari ribuan teman Facebook-ku. Kedekatan kami hanya bermula dengan saling mengomentari foto atau status di Facebook, namun lama-kelamaan kami semakin dekat dan memutuskan untuk berpacaran.  Hans sama sepertiku, kami sama-sama pernah merasakan kehidupan di pesantren dan juga kami tinggal di kota perantauan yang sama, hanya saja kampus kami yang berbeda. Hans berkuliah di salah satu universitas swasta, sedangkan aku berkuliah di universitas negeri.
Danau cermin adalah tempat pertama kali aku dan Hans dipertemukan. Danau yang merupakan bekas galian tambang itu menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di kota Samarinda. Kutatap Hans yang tidak sedikit pun berbeda dengan foto di Facebook-nya. Hans lebih banyak berbicara tentang dirinya bahkan keluarganya. Hans berasal dari keluarga broken home yang saat ini memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Hans tetap semangat walau harus menghidupi dirinya, ayahnya, bahkan membiayai kuliahnya sendiri. Sungguh aku merasa bangga dengan semangat Hans.
Satu bulan berpacaran, semua masih baik-baik saja. Aku sering menemainya bermain futsal dengan teman-teman kampusnya bahkan sampai menemaninya menghabiskan waktu di perpustakaan. Sampai ketika Hans mengatakan bahwa ia ingin aku memakai kain panjang dan lebar itu kembali. Hans beralasan bahwa ia tak ingin auratku dilihat oleh laki-laki lain. Aku pun menyetujui perkataan Hans yang menurutku itu masih masuk dalam logikaku. Setelah beberapa hari kemudian, Hans meminta permintaan yang menurutku terlalu berlebihan. Permintaan itu ialah bahwa jika aku tak bersamanya, aku harus melapor dengannya ke mana dan bersama siapa aku pergi, bahkan harus dengan bukti sebuah foto. Sampai-sampai salah satu temanku berpendapat bahwa ia tak habis pikir dengan sifat Hans.
Tidak sampai di situ saja, hampir setiap malam Hans menjemputku dengan tiba-tiba di depan pintu kos tanpa sepengetahuanku. Selalu dengan pesan singkatntya, “Aku di depan”. Bila aku tak menemuinya, ia akan menelpon Lia, teman kosku, atau bahkan menungguku sampai aku keluar. Belum lagi ketika bertemu, Hans akan selalu mengecek handphone-ku dan jika ditemukan ada chat dari laki-laki lain, maka itu akan jadi permasalahan besar buatku. Pernah ketika kami sedang makan, tiba-tiba ketua kelasku menelpon. Wajar saja, itu karena aku adalah bendahara di kelasku. Sewaktu-waktu ketua kelasku akan meminta tolong kepadaku agar dibelikan pulsa untuk mengirimi pesan kepada dosen kami yang mengingatkan bahwa dosen tersebut memiliki jam mengajar di kelas. Hans langsung menarik handphone-ku dan menghapus nomor ketua kelasku. Terlebih mengatakan bahwa aku tak usah lagi menjadi bendahara di kelas. Lagi-lagi aku hanya bisa diam melihat sifat Hans yang sudah terlewat batas itu.
 Lambat laun aku mulai bersuara. Aku mulai mengatakan hal-hal yang Hans lakukan sangat berlebihan. Bukannya membaik, yang ada malah semakin memburuk. Ketika aku mengeluarkan semua kekesalanku pada Hans, ia selalu membalas dengan perkataan kasar kepadaku misalnya, “Calon sarjana tapi omomgannya kok gak berpendidikan”. Pernah juga kami berkelahi hebat di taman tempat aku menghabiskan soreku bersamanya. Tiba-tiba ada pesan dari kakak tingkatku sewaktu SMP, kemudian Hans marah besar dan aku pun juga marah karena aku tak habis pikir dengan pemikiran Hans langsung saja kubanting handphone-ku agar tak ada lagi laki-laki yang menguhubungiku. Orang-orang di sekitar kami langsung melihat ke arah kami. Sungguh pada saat itu merupakan hal yang memalukan bagiku.
Aku memilih pulang berjalan kaki menuju kosku, namun Hans tetap bersikeras membuntutiku dengan motor hitamnya itu. Ia memintaku naik dan akhirnya aku menurutinya. Saat di perjalanan, spontan Hans mengendarai motor dengan sangat kencang hingga membuatku mati ketakutan. Begitulah sebagian hal yang dilakukan Hans ketika meluapkan emosinya. Aku berteriak meminta Hans menurunkanku, bahkan aku mengancamnya bahwa aku akan lompat dari motornya, namun Hans tetap mengabaikannya. Ketika bertemu dengan tikungan kiri, langsung saja aku lompat dari motor Hans dan langsung berlari mencari pangkalan ojek. Sesampainya di kos, aku menangis sejadi-jadinya. Lia hanya diam dengan raut wajahnya yang mengatakan seakan ia tahu siapa penyebab tangisanku ini. Aku tak ingin menceritakan kejadian ini kepada Lia. Terlalu memalukan untuk diungkapkan. Aku masih tetap menangis sambil tangan kiriku memegang kencang mata kakiku yang tergores ketika aku melompat tadi.
Aku tak habis pikir dengan Hans yang perilakunya sudah di luar batas kewajaran yang tidak selayaknya orang berpacaran. Bagaimana jika menikah dengannya? Kadang aku berpikir apakah semua perilakunya ada hubungannya dengan latar belakang keluarga Hans. Hans yang tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya sehingga ia berperilaku seperti ini kepadaku karena takut aku akan meninggalkannya. Mungkinkah Hans? Apa harus seperti ini? Sepanjang malam kuhabiskan waktu hanya untuk merenungi ini semua.
Esoknya Hans datang ke kampusku untuk meminta maaf dan menyesali perbuatannya yang dia lakukan terhadapku. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis di hadapanku dan mengatakan bahwa dia melakukannya karena dia mencintaiku dan tak ingin kehilanganku. Aku tak bisa berkata apa-apa selain memaafkannya dan langsung pergi meninggalkannya karena harus mengikuti kajian rutin organisasi keagamaan kampusku. Seusai kegiatan kajian di masjid kebanggan kampusku usai, tiba-tiba ada hal yang menjanggal di hatiku. Aku berpikir bahwa aku yang sudah selayaknya ukhti-ukhti kampus, tetapi tetap saja masih berpacaran. Berjalan bergandengan tangan di tempat umum bahkan sampai teman sekelasku pernah berkata kepadaku “Bejilbab panjang kok masih pacaran?” Sejenak kata-kata itu menghantui pikiranku.
Aku ingin kembali tanpa jilbab panjang dan lebar yang mengeliliku. Aku ingin melakukan kebebesan untuk diriku sendiri. Tak lagi hanya berfokus kepada Hans. Tak lagi mengorbankan liburan kuliahku dengan mimilih untuk tetap tinggal sendiri di kos daripada pulang ke kampung halamanku. Beberapa teman dekatku pun terkadang risih dengan Hans yang terus mengirimi pesan kepada mereka untuk menanyaiku ketika aku tak membalas pesannya. Aku tak tahu alasan apa yang tepat untuk mengakhiri hubungan tak sehat kami ini. Jujur saja, aku ingin segera mengakhirinya.
            Beberapa waktu kemudian Tuhan menjawab semua doaku. Akhinya aku bisa terbebas dari Hans. Aku bersyukur pada pertemuan terakhirku dengannya, ketika Hans mengajakku makan di salah satu tempat favoritnya, Hans kemudian ingin ke toilet dan menitipkan handphone-nya kepadaku. Beberapa detik kemudian handphone milik Hans bergetar. Langsung saja tanpa ragu aku mengeceknya. Kutatap lama foto profil wanita yang mengirimi pesan kepada Hans, yang merupakan mantan kekasih Hans. Kubaca dengan seksama percakapan Hans dengan mantan kekasihnya itu. Mereka yang diam-diam bermain di belakangku sebulan belakangan ini. Jelas aku sakit hati bahkan seketika meneteskan air mata. Aku langsung mengirimi pesan kepada temanku untuk menjemputku. Tak lama, Hans kembali ke meja makan, lalu kusodorkan handphone yang berisi percakapaan dengan kekasih gelapnya itu. Aku tak banyak bicara, hanya mengucapakan bahwa tak ada lagi hubungan yang harus dipertahankan, lalu aku pun pergi menghampiri kawanku.
            Setelah kejadian itu, aku memblokir semua kontak Hans. Tak lupa pula aku juga menyuruh temanku untuk memblokir nomor Hans. Dan aku memilih untuk lebih awal berangkat ke kampus dan pulang ke kos agar Hans tidak menghampiriku. Beberapa kali tetap saja Hans menungguku di depan kos, bahkan pernah sesekali mendatangi kampusku. Untungnya aku tak pernah bertemu dengannya. Beberapa bulan kemudian aku memilih pindah kos bersama kawanku. Aku sangat lega bisa terbebas darinya dan bisa lebih fokus pada kuliahku. Aku menjadi diriku kembali yang melakukan sesuatu tanpa ada paksaan, tanpa ada yang mengatur, tanpa melapor, dan menyiksa batinku. Tak apa semua yang kulakukan untuk Hans dibalas dengan adanya orang ketiga di antara kami, setidaknya Tuhan telah menyelamatkanku dari hubungan yang sudah di luar batas kewajaran ini.