18 Juni 2004.
Anak
kecil berkuncir kuda dengan tambahan ikat kepang yang tertata rapi. Begitulah
ciri khasku saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku yang sangat menggilai dunia kepramukaan. Aku yang terlalu bersemangat ketika jelajah malam. Dan lebih jelasnya
alasan aku menyukai itu semua karena aku hanya ingin lebih lama lagi bersamanya.
Boy, lelaki bermata sipit yang ketika tertawa, mata mungilnya seakan
tak terlihat. Lelaki yang setiap tahunnya selalu mendapat peringkat 10 besar
dan baginya dunia kepramukaan adalah segala untuknya. Lelaki yang tak pernah
berbicara lembut, selalu nada kasarnya yang terdengat dari mulutnya terutama kepada perempuan. Wajahnya yang apatis membuat banyak orang tak ingin mengobrol
dengannya.
Boy
hampir setiap hari membuatku menangis di sekolah. Entah dia mengolok nama orang
tuaku, mencoret tanganku, bahkan menempelkan penghapus papan tulis di wajahku.
Bukan hanya aku saja, teman perempuanku yang duduk sebangku dengannya juga tak
tahan terus duduk bersampingan bersamanya. Bayangkan saja, jika satu bangku
dengannya selalu ada penggaris di atas meja yang merupakan batas wilayah Boy
dan teman sebangkunya. Jika teman sebangkunya melewati batas, maka Boy akan
memukulnya. "Sungguh keterlaluan", kesalku dalam hati. Ada saja tingkah anehnya yang membuatku
kesal dengannya karena tempat dudukku tepat di belakang Boy. Sampai pada akhirnya aku
mulai menjauhinya. Mungkin Boy sadar aku menjauh darinya tetapi tetap saja dia
menjahiliku. Sampai ketika ada suatu kejadian menggemparkan di kelasku, yaitu ketika
Alam teman sekelasku yang menyatakan cinta kepadaku dan disaksikan oleh banyak
orang. Disitulah Boy tak pernah menggangguku lagi. Jangankan untuk mengganggu, menatap
wajahkupun tak pernah.
Setelah
kenaikan kelas 4 Sd, akupun memutuskan untuk masuk ekstrakulikuler yang sama dengan Boy.
Ternyata tak ada yang merubah apapun. Boy tetap saja tak mempedulikanku.
Lama-kelamaan akupun juga bersikap biasa. Hal tersebut berlanjut ketika SMP.
Aku dan Boy berbeda sekolah sehingga tak pernah ada lagi komunikasi di antara
kami. Sampai ketika aku asyik mengotak-atik
facebook-ku dan kulihat nama Boy
meminta pertemanan di akunku dan disitulah awal kami berteman kembali. Hingga
tepat di hari ulang tahunku Boy memintaku untuk membuka situs web di komputer.
Ternyata isi web tersebut ialah video curahan hati Boy yang selama ini dia pendam
kepadaku. Aku tak menyangka Boy sudah menyukaiku sejak kami duduk di bangku SD.
Boy selalu menjahiliku karena ia hanya ingin mendapat perhatianku. Boy selalu
apatis kepada teman wanitaku karena Boy tak ingin aku cemburu. Dan didetik video
terakhir ia mengungkapkan bahwa aku adalah first
love Boy dan tak ketinggalan kata cinta darinya.
“Kamu harus kerja dan sukses, lalu carilah
aku” begitulah jawaban singkat dariku. Aku tak menyangka sudah 7 tahun Boy
memendam ini semua. Setelah pengakuan cinta Boy, akupun memutuskan untuk putus
komunikasi dengannya. Dua tahun berlalu kudengar Boy sudah berkerja bahkan
berkuliah. Ia sudah memenuhi apa yang aku mau. Entah mengapa selama dua tahun ini, aku sudah tak mencintainya lagi. Bodohnya aku lebih memilih orang
yang lain. Boy lelaki cerdas, mapan, berpendidikan, dan terlebih
ibuku menyukainya. Jelas, Boy marah kepadaku, memakiku, bahkan menjelekkan
lelaki yang sedang kupacari saat itu. Tetapi aku tetap tak menghiraukannya. Aku memilih
William, teman kecilku yang sangat populer di kalangan wanita saat itu. Belum seminggu
kami berpacaran, ternyata William bukan lelaki yang baik. Aku menyesal tak
mendengarkan kata-kata Boy. Kudapatkan chat Willian dengan mantan kekasihnya
yang tak bisa kulanjutkan lagi untuk membacanya. Di saat itu juga, aku pergi dan memutuskan hubunganku dengan William. Bukan William
yang sangat membuatku kecewa, melainkan diriku sendiri. Aku yang lebih memilih
William yang tak ku tahu asal usulnya daripada Boy lelaki yang menjadikanku
cinta pertamanya selama 7 tahun dan sudah mampu menyanggupi permintaan konyolku.
Waktu
tak dapat diulang. Tak mungkin aku memohon kepada Boy untuk menjadikanku
kekasihnya. Boy yang sekarang telah dimiliki orang lain yang jauh lebih baik
dariku dan lebih menghargai cintanya dibanding aku. Mungkin permintaan maafku
tak mampu menghapus rasa sakitnya karena aku telah mempermainkan cintanya. Yang
kudapatkan sekarang aku telah menyakiti Boy dan aku pun mendapat balasan setimpal, yaitu telah
dihianati oleh William.