Selasa, 02 Juni 2020

BOY MAAFKAN AKU !


18 Juni 2004.
Anak kecil berkuncir kuda dengan tambahan ikat kepang yang tertata rapi. Begitulah ciri khasku saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku yang sangat menggilai dunia kepramukaan. Aku yang terlalu bersemangat ketika jelajah malam. Dan lebih jelasnya alasan aku menyukai itu semua karena aku hanya ingin lebih lama lagi bersamanya. Boy, lelaki bermata sipit yang ketika tertawa, mata mungilnya seakan tak terlihat. Lelaki yang setiap tahunnya selalu mendapat peringkat 10 besar dan baginya dunia kepramukaan adalah segala untuknya. Lelaki yang tak pernah berbicara lembut, selalu nada kasarnya yang terdengat dari mulutnya terutama kepada perempuan. Wajahnya yang apatis membuat banyak orang tak ingin mengobrol dengannya.
Boy hampir setiap hari membuatku menangis di sekolah. Entah dia mengolok nama orang tuaku, mencoret tanganku, bahkan menempelkan penghapus papan tulis di wajahku. Bukan hanya aku saja, teman perempuanku yang duduk sebangku dengannya juga tak tahan terus duduk bersampingan bersamanya. Bayangkan saja, jika satu bangku dengannya selalu ada penggaris di atas meja yang merupakan batas wilayah Boy dan teman sebangkunya. Jika teman sebangkunya melewati batas, maka Boy akan memukulnya. "Sungguh keterlaluan", kesalku dalam hati. Ada saja tingkah anehnya yang membuatku kesal dengannya karena tempat dudukku tepat di belakang Boy. Sampai pada akhirnya aku mulai menjauhinya. Mungkin Boy sadar aku menjauh darinya tetapi tetap saja dia menjahiliku. Sampai ketika ada suatu kejadian menggemparkan di kelasku, yaitu ketika Alam teman sekelasku yang menyatakan cinta kepadaku dan disaksikan oleh banyak orang. Disitulah Boy tak pernah menggangguku lagi. Jangankan untuk mengganggu, menatap wajahkupun tak pernah.
Setelah kenaikan kelas 4 Sd, akupun memutuskan untuk masuk ekstrakulikuler yang sama dengan Boy. Ternyata tak ada yang merubah apapun. Boy tetap saja tak mempedulikanku. Lama-kelamaan akupun juga bersikap biasa. Hal tersebut berlanjut ketika SMP. Aku dan Boy berbeda sekolah sehingga tak pernah ada lagi komunikasi di antara kami. Sampai ketika aku asyik mengotak-atik  facebook-ku dan kulihat nama Boy meminta pertemanan di akunku dan disitulah awal kami berteman kembali. Hingga tepat di hari ulang tahunku Boy memintaku untuk membuka situs web di komputer. Ternyata isi web tersebut ialah video curahan hati Boy yang selama ini dia pendam kepadaku. Aku tak menyangka Boy sudah menyukaiku sejak kami duduk di bangku SD. Boy selalu menjahiliku karena ia hanya ingin mendapat perhatianku. Boy selalu apatis kepada teman wanitaku karena Boy tak ingin aku cemburu. Dan didetik video terakhir ia mengungkapkan bahwa aku adalah first love Boy dan tak ketinggalan kata cinta darinya.
 “Kamu harus kerja dan sukses, lalu carilah aku” begitulah jawaban singkat dariku. Aku tak menyangka sudah 7 tahun Boy memendam ini semua. Setelah pengakuan cinta Boy, akupun memutuskan untuk putus komunikasi dengannya. Dua tahun berlalu kudengar Boy sudah berkerja bahkan berkuliah. Ia sudah memenuhi apa yang aku mau. Entah mengapa selama dua tahun ini, aku sudah tak mencintainya lagi. Bodohnya aku lebih memilih orang yang lain. Boy lelaki cerdas, mapan, berpendidikan, dan terlebih ibuku menyukainya. Jelas, Boy marah kepadaku, memakiku, bahkan menjelekkan lelaki yang sedang kupacari saat itu. Tetapi aku tetap tak menghiraukannya. Aku memilih William, teman kecilku yang sangat populer di kalangan wanita saat itu. Belum seminggu kami berpacaran, ternyata William bukan lelaki yang baik. Aku menyesal tak mendengarkan kata-kata Boy. Kudapatkan chat Willian dengan mantan kekasihnya yang tak bisa kulanjutkan lagi  untuk membacanya. Di saat itu juga, aku pergi dan memutuskan hubunganku dengan William. Bukan William yang sangat membuatku kecewa, melainkan diriku sendiri. Aku yang lebih memilih William yang tak ku tahu asal usulnya daripada Boy lelaki yang menjadikanku cinta pertamanya selama 7 tahun dan sudah mampu menyanggupi permintaan konyolku.
Waktu tak dapat diulang. Tak mungkin aku memohon kepada Boy untuk menjadikanku kekasihnya. Boy yang sekarang telah dimiliki orang lain yang jauh lebih baik dariku dan lebih menghargai cintanya dibanding aku. Mungkin permintaan maafku tak mampu menghapus rasa sakitnya karena aku telah mempermainkan cintanya. Yang kudapatkan sekarang aku telah menyakiti Boy dan aku pun mendapat balasan setimpal, yaitu telah dihianati oleh William.