Saat
itu adalah masa-masa awal di mana aku menikmati indahnya dunia perkuliahan, indahnya
mengenal orang-orang baru, indahnya mengenal lebih jauh akan kota Samarinda,
kota perantauanku. Saat itu juga aku memilih untuk tidak lagi menggunakan kain
panjang dan lebar yang menutupi seluruh tubuhku, kecuali wajah. Aku lebih
memilih menggunakan kerudung segi empat di kepalaku. Keputusan itu kubuat saat
setelah berbulan-bulan aku memikirkanya.
Masa
orientasi perkuliahanku telah berakhir. Selama masa orientasi perkuliahan pula
aku mendapatkan kawan baru yang juga akan menjadi kawan satu kamar kosku. Dia
Lia, gadis berkulit putih pucat dengan rambut indahnya yang selalu terurai.
Beberapa hari yang lalu Lia berkata padaku bahwa ia ingin mencari kos yang
hanya butuh berjalan kaki saja untuk menuju kampus, sehingga aku pun yang
dengan semangatnya menawarkan kepada Lia untuk sekamar denganku, kebetulan juga
aku satu kelas dengannya. Dan kami memutuskan untuk selalu berangkat kuliah
bersama-sama nantinya.
Di
akhir semester pertama, aku menjalin hubungan dengan Hans. Dia merupakan salah
satu orang dari ribuan teman Facebook-ku.
Kedekatan kami hanya bermula dengan saling mengomentari foto atau status di Facebook, namun lama-kelamaan kami semakin dekat dan memutuskan untuk
berpacaran. Hans sama sepertiku, kami
sama-sama pernah merasakan kehidupan di pesantren dan juga kami tinggal di kota
perantauan yang sama, hanya saja kampus kami yang berbeda. Hans berkuliah di
salah satu universitas swasta, sedangkan aku berkuliah di universitas negeri.
Danau
cermin adalah tempat pertama kali aku dan Hans dipertemukan. Danau yang merupakan
bekas galian tambang itu menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di kota
Samarinda. Kutatap Hans yang tidak sedikit pun berbeda dengan foto di Facebook-nya. Hans lebih banyak
berbicara tentang dirinya bahkan keluarganya. Hans berasal dari keluarga broken home yang saat ini memilih untuk
tinggal bersama ayahnya. Hans tetap semangat walau harus menghidupi dirinya,
ayahnya, bahkan membiayai kuliahnya sendiri. Sungguh aku merasa bangga dengan
semangat Hans.
Satu
bulan berpacaran, semua masih baik-baik saja. Aku sering menemainya bermain
futsal dengan teman-teman kampusnya bahkan sampai menemaninya menghabiskan
waktu di perpustakaan. Sampai ketika Hans mengatakan bahwa ia ingin aku memakai
kain panjang dan lebar itu kembali. Hans beralasan bahwa ia tak ingin auratku
dilihat oleh laki-laki lain. Aku pun menyetujui perkataan Hans yang menurutku
itu masih masuk dalam logikaku. Setelah beberapa hari kemudian, Hans meminta
permintaan yang menurutku terlalu berlebihan. Permintaan itu ialah bahwa jika
aku tak bersamanya, aku harus melapor dengannya ke mana dan bersama siapa aku
pergi, bahkan harus dengan bukti sebuah foto. Sampai-sampai salah satu temanku berpendapat
bahwa ia tak habis pikir dengan sifat Hans.
Tidak
sampai di situ saja, hampir setiap malam Hans menjemputku dengan tiba-tiba di
depan pintu kos tanpa sepengetahuanku. Selalu dengan pesan singkatntya, “Aku di
depan”. Bila aku tak menemuinya, ia akan menelpon Lia, teman kosku, atau bahkan
menungguku sampai aku keluar. Belum lagi ketika bertemu, Hans akan selalu
mengecek handphone-ku dan jika
ditemukan ada chat dari laki-laki
lain, maka itu akan jadi permasalahan besar buatku. Pernah ketika kami sedang
makan, tiba-tiba ketua kelasku menelpon. Wajar saja, itu karena aku adalah
bendahara di kelasku. Sewaktu-waktu ketua kelasku akan meminta tolong kepadaku
agar dibelikan pulsa untuk mengirimi pesan kepada dosen kami yang mengingatkan
bahwa dosen tersebut memiliki jam mengajar di kelas. Hans langsung menarik handphone-ku dan menghapus nomor ketua kelasku.
Terlebih mengatakan bahwa aku tak usah lagi menjadi bendahara di kelas.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam melihat sifat Hans yang sudah terlewat batas itu.
Lambat laun aku mulai bersuara. Aku mulai
mengatakan hal-hal yang Hans lakukan sangat berlebihan. Bukannya membaik, yang
ada malah semakin memburuk. Ketika aku mengeluarkan semua kekesalanku pada
Hans, ia selalu membalas dengan perkataan kasar kepadaku misalnya, “Calon
sarjana tapi omomgannya kok gak berpendidikan”. Pernah juga kami berkelahi
hebat di taman tempat aku menghabiskan soreku bersamanya. Tiba-tiba ada pesan dari
kakak tingkatku sewaktu SMP, kemudian Hans marah besar dan aku pun juga marah karena aku tak habis pikir dengan pemikiran Hans langsung saja kubanting handphone-ku
agar tak ada lagi laki-laki yang menguhubungiku. Orang-orang di sekitar kami langsung
melihat ke arah kami. Sungguh pada saat itu merupakan hal yang memalukan
bagiku.
Aku
memilih pulang berjalan kaki menuju kosku, namun Hans tetap bersikeras membuntutiku
dengan motor hitamnya itu. Ia memintaku naik dan akhirnya aku menurutinya. Saat
di perjalanan, spontan Hans mengendarai motor dengan sangat kencang hingga
membuatku mati ketakutan. Begitulah sebagian hal yang dilakukan Hans ketika
meluapkan emosinya. Aku berteriak meminta Hans menurunkanku, bahkan aku
mengancamnya bahwa aku akan lompat dari motornya, namun Hans tetap
mengabaikannya. Ketika bertemu dengan tikungan kiri, langsung saja aku lompat
dari motor Hans dan langsung berlari mencari pangkalan ojek. Sesampainya di kos,
aku menangis sejadi-jadinya. Lia hanya diam dengan raut wajahnya yang
mengatakan seakan ia tahu siapa penyebab tangisanku ini. Aku tak ingin
menceritakan kejadian ini kepada Lia. Terlalu memalukan untuk diungkapkan. Aku
masih tetap menangis sambil tangan kiriku memegang kencang mata kakiku yang
tergores ketika aku melompat tadi.
Aku
tak habis pikir dengan Hans yang perilakunya sudah di luar batas kewajaran yang
tidak selayaknya orang berpacaran. Bagaimana jika menikah dengannya? Kadang aku
berpikir apakah semua perilakunya ada hubungannya dengan latar belakang keluarga
Hans. Hans yang tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya sehingga
ia berperilaku seperti ini kepadaku karena takut aku akan meninggalkannya.
Mungkinkah Hans? Apa harus seperti ini? Sepanjang malam kuhabiskan waktu hanya
untuk merenungi ini semua.
Esoknya
Hans datang ke kampusku untuk meminta maaf dan menyesali perbuatannya yang dia
lakukan terhadapku. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis di hadapanku
dan mengatakan bahwa dia melakukannya karena dia mencintaiku dan tak ingin kehilanganku.
Aku tak bisa berkata apa-apa selain memaafkannya dan langsung pergi meninggalkannya karena harus mengikuti kajian
rutin organisasi keagamaan kampusku. Seusai kegiatan kajian di masjid kebanggan
kampusku usai, tiba-tiba ada hal yang menjanggal di hatiku. Aku berpikir bahwa
aku yang sudah selayaknya ukhti-ukhti
kampus, tetapi tetap saja masih berpacaran. Berjalan bergandengan tangan di
tempat umum bahkan sampai teman sekelasku pernah berkata kepadaku “Bejilbab
panjang kok masih pacaran?” Sejenak kata-kata itu menghantui pikiranku.
Aku
ingin kembali tanpa jilbab panjang dan lebar yang mengeliliku. Aku ingin
melakukan kebebesan untuk diriku sendiri. Tak lagi hanya berfokus kepada Hans.
Tak lagi mengorbankan liburan kuliahku dengan mimilih untuk tetap tinggal
sendiri di kos daripada pulang ke kampung halamanku. Beberapa teman dekatku pun terkadang
risih dengan Hans yang terus mengirimi pesan kepada mereka untuk menanyaiku ketika
aku tak membalas pesannya. Aku tak tahu alasan apa yang tepat untuk mengakhiri
hubungan tak sehat kami ini. Jujur saja, aku ingin segera mengakhirinya.
Beberapa waktu kemudian Tuhan menjawab semua doaku.
Akhinya aku bisa terbebas dari Hans. Aku bersyukur pada pertemuan terakhirku
dengannya, ketika Hans mengajakku makan di salah satu tempat favoritnya, Hans kemudian
ingin ke toilet dan menitipkan handphone-nya
kepadaku. Beberapa detik kemudian handphone
milik Hans bergetar. Langsung saja tanpa ragu aku mengeceknya. Kutatap lama
foto profil wanita yang mengirimi pesan kepada Hans, yang merupakan mantan
kekasih Hans. Kubaca dengan seksama percakapan Hans dengan mantan kekasihnya
itu. Mereka yang diam-diam bermain di belakangku sebulan belakangan ini. Jelas
aku sakit hati bahkan seketika meneteskan air mata. Aku langsung mengirimi
pesan kepada temanku untuk menjemputku. Tak lama, Hans kembali ke meja makan,
lalu kusodorkan handphone yang berisi
percakapaan dengan kekasih gelapnya itu. Aku tak banyak bicara, hanya
mengucapakan bahwa tak ada lagi hubungan yang harus dipertahankan, lalu aku pun
pergi menghampiri kawanku.
Setelah kejadian itu, aku memblokir semua kontak Hans. Tak
lupa pula aku juga menyuruh temanku untuk memblokir nomor Hans. Dan aku memilih
untuk lebih awal berangkat ke kampus dan pulang ke kos agar Hans tidak
menghampiriku. Beberapa kali tetap saja Hans menungguku di depan kos, bahkan
pernah sesekali mendatangi kampusku. Untungnya aku tak pernah bertemu
dengannya. Beberapa bulan kemudian aku memilih pindah kos bersama kawanku. Aku
sangat lega bisa terbebas darinya dan bisa lebih fokus pada kuliahku. Aku
menjadi diriku kembali yang melakukan sesuatu tanpa ada paksaan, tanpa ada yang
mengatur, tanpa melapor, dan menyiksa batinku. Tak apa semua yang kulakukan
untuk Hans dibalas dengan adanya orang ketiga di antara kami, setidaknya Tuhan
telah menyelamatkanku dari hubungan yang sudah di luar batas kewajaran
ini.
