Kamis, 11 Juni 2020

EX TOXIC RELANTIONSHIP


Saat itu adalah masa-masa awal di mana aku menikmati indahnya dunia perkuliahan, indahnya mengenal orang-orang baru, indahnya mengenal lebih jauh akan kota Samarinda, kota perantauanku. Saat itu juga aku memilih untuk tidak lagi menggunakan kain panjang dan lebar yang menutupi seluruh tubuhku, kecuali wajah. Aku lebih memilih menggunakan kerudung segi empat di kepalaku. Keputusan itu kubuat saat setelah berbulan-bulan aku memikirkanya.
Masa orientasi perkuliahanku telah berakhir. Selama masa orientasi perkuliahan pula aku mendapatkan kawan baru yang juga akan menjadi kawan satu kamar kosku. Dia Lia, gadis berkulit putih pucat dengan rambut indahnya yang selalu terurai. Beberapa hari yang lalu Lia berkata padaku bahwa ia ingin mencari kos yang hanya butuh berjalan kaki saja untuk menuju kampus, sehingga aku pun yang dengan semangatnya menawarkan kepada Lia untuk sekamar denganku, kebetulan juga aku satu kelas dengannya. Dan kami memutuskan untuk selalu berangkat kuliah bersama-sama nantinya.  
Di akhir semester pertama, aku menjalin hubungan dengan Hans. Dia merupakan salah satu orang dari ribuan teman Facebook-ku. Kedekatan kami hanya bermula dengan saling mengomentari foto atau status di Facebook, namun lama-kelamaan kami semakin dekat dan memutuskan untuk berpacaran.  Hans sama sepertiku, kami sama-sama pernah merasakan kehidupan di pesantren dan juga kami tinggal di kota perantauan yang sama, hanya saja kampus kami yang berbeda. Hans berkuliah di salah satu universitas swasta, sedangkan aku berkuliah di universitas negeri.
Danau cermin adalah tempat pertama kali aku dan Hans dipertemukan. Danau yang merupakan bekas galian tambang itu menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di kota Samarinda. Kutatap Hans yang tidak sedikit pun berbeda dengan foto di Facebook-nya. Hans lebih banyak berbicara tentang dirinya bahkan keluarganya. Hans berasal dari keluarga broken home yang saat ini memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Hans tetap semangat walau harus menghidupi dirinya, ayahnya, bahkan membiayai kuliahnya sendiri. Sungguh aku merasa bangga dengan semangat Hans.
Satu bulan berpacaran, semua masih baik-baik saja. Aku sering menemainya bermain futsal dengan teman-teman kampusnya bahkan sampai menemaninya menghabiskan waktu di perpustakaan. Sampai ketika Hans mengatakan bahwa ia ingin aku memakai kain panjang dan lebar itu kembali. Hans beralasan bahwa ia tak ingin auratku dilihat oleh laki-laki lain. Aku pun menyetujui perkataan Hans yang menurutku itu masih masuk dalam logikaku. Setelah beberapa hari kemudian, Hans meminta permintaan yang menurutku terlalu berlebihan. Permintaan itu ialah bahwa jika aku tak bersamanya, aku harus melapor dengannya ke mana dan bersama siapa aku pergi, bahkan harus dengan bukti sebuah foto. Sampai-sampai salah satu temanku berpendapat bahwa ia tak habis pikir dengan sifat Hans.
Tidak sampai di situ saja, hampir setiap malam Hans menjemputku dengan tiba-tiba di depan pintu kos tanpa sepengetahuanku. Selalu dengan pesan singkatntya, “Aku di depan”. Bila aku tak menemuinya, ia akan menelpon Lia, teman kosku, atau bahkan menungguku sampai aku keluar. Belum lagi ketika bertemu, Hans akan selalu mengecek handphone-ku dan jika ditemukan ada chat dari laki-laki lain, maka itu akan jadi permasalahan besar buatku. Pernah ketika kami sedang makan, tiba-tiba ketua kelasku menelpon. Wajar saja, itu karena aku adalah bendahara di kelasku. Sewaktu-waktu ketua kelasku akan meminta tolong kepadaku agar dibelikan pulsa untuk mengirimi pesan kepada dosen kami yang mengingatkan bahwa dosen tersebut memiliki jam mengajar di kelas. Hans langsung menarik handphone-ku dan menghapus nomor ketua kelasku. Terlebih mengatakan bahwa aku tak usah lagi menjadi bendahara di kelas. Lagi-lagi aku hanya bisa diam melihat sifat Hans yang sudah terlewat batas itu.
 Lambat laun aku mulai bersuara. Aku mulai mengatakan hal-hal yang Hans lakukan sangat berlebihan. Bukannya membaik, yang ada malah semakin memburuk. Ketika aku mengeluarkan semua kekesalanku pada Hans, ia selalu membalas dengan perkataan kasar kepadaku misalnya, “Calon sarjana tapi omomgannya kok gak berpendidikan”. Pernah juga kami berkelahi hebat di taman tempat aku menghabiskan soreku bersamanya. Tiba-tiba ada pesan dari kakak tingkatku sewaktu SMP, kemudian Hans marah besar dan aku pun juga marah karena aku tak habis pikir dengan pemikiran Hans langsung saja kubanting handphone-ku agar tak ada lagi laki-laki yang menguhubungiku. Orang-orang di sekitar kami langsung melihat ke arah kami. Sungguh pada saat itu merupakan hal yang memalukan bagiku.
Aku memilih pulang berjalan kaki menuju kosku, namun Hans tetap bersikeras membuntutiku dengan motor hitamnya itu. Ia memintaku naik dan akhirnya aku menurutinya. Saat di perjalanan, spontan Hans mengendarai motor dengan sangat kencang hingga membuatku mati ketakutan. Begitulah sebagian hal yang dilakukan Hans ketika meluapkan emosinya. Aku berteriak meminta Hans menurunkanku, bahkan aku mengancamnya bahwa aku akan lompat dari motornya, namun Hans tetap mengabaikannya. Ketika bertemu dengan tikungan kiri, langsung saja aku lompat dari motor Hans dan langsung berlari mencari pangkalan ojek. Sesampainya di kos, aku menangis sejadi-jadinya. Lia hanya diam dengan raut wajahnya yang mengatakan seakan ia tahu siapa penyebab tangisanku ini. Aku tak ingin menceritakan kejadian ini kepada Lia. Terlalu memalukan untuk diungkapkan. Aku masih tetap menangis sambil tangan kiriku memegang kencang mata kakiku yang tergores ketika aku melompat tadi.
Aku tak habis pikir dengan Hans yang perilakunya sudah di luar batas kewajaran yang tidak selayaknya orang berpacaran. Bagaimana jika menikah dengannya? Kadang aku berpikir apakah semua perilakunya ada hubungannya dengan latar belakang keluarga Hans. Hans yang tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya sehingga ia berperilaku seperti ini kepadaku karena takut aku akan meninggalkannya. Mungkinkah Hans? Apa harus seperti ini? Sepanjang malam kuhabiskan waktu hanya untuk merenungi ini semua.
Esoknya Hans datang ke kampusku untuk meminta maaf dan menyesali perbuatannya yang dia lakukan terhadapku. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis di hadapanku dan mengatakan bahwa dia melakukannya karena dia mencintaiku dan tak ingin kehilanganku. Aku tak bisa berkata apa-apa selain memaafkannya dan langsung pergi meninggalkannya karena harus mengikuti kajian rutin organisasi keagamaan kampusku. Seusai kegiatan kajian di masjid kebanggan kampusku usai, tiba-tiba ada hal yang menjanggal di hatiku. Aku berpikir bahwa aku yang sudah selayaknya ukhti-ukhti kampus, tetapi tetap saja masih berpacaran. Berjalan bergandengan tangan di tempat umum bahkan sampai teman sekelasku pernah berkata kepadaku “Bejilbab panjang kok masih pacaran?” Sejenak kata-kata itu menghantui pikiranku.
Aku ingin kembali tanpa jilbab panjang dan lebar yang mengeliliku. Aku ingin melakukan kebebesan untuk diriku sendiri. Tak lagi hanya berfokus kepada Hans. Tak lagi mengorbankan liburan kuliahku dengan mimilih untuk tetap tinggal sendiri di kos daripada pulang ke kampung halamanku. Beberapa teman dekatku pun terkadang risih dengan Hans yang terus mengirimi pesan kepada mereka untuk menanyaiku ketika aku tak membalas pesannya. Aku tak tahu alasan apa yang tepat untuk mengakhiri hubungan tak sehat kami ini. Jujur saja, aku ingin segera mengakhirinya.
            Beberapa waktu kemudian Tuhan menjawab semua doaku. Akhinya aku bisa terbebas dari Hans. Aku bersyukur pada pertemuan terakhirku dengannya, ketika Hans mengajakku makan di salah satu tempat favoritnya, Hans kemudian ingin ke toilet dan menitipkan handphone-nya kepadaku. Beberapa detik kemudian handphone milik Hans bergetar. Langsung saja tanpa ragu aku mengeceknya. Kutatap lama foto profil wanita yang mengirimi pesan kepada Hans, yang merupakan mantan kekasih Hans. Kubaca dengan seksama percakapan Hans dengan mantan kekasihnya itu. Mereka yang diam-diam bermain di belakangku sebulan belakangan ini. Jelas aku sakit hati bahkan seketika meneteskan air mata. Aku langsung mengirimi pesan kepada temanku untuk menjemputku. Tak lama, Hans kembali ke meja makan, lalu kusodorkan handphone yang berisi percakapaan dengan kekasih gelapnya itu. Aku tak banyak bicara, hanya mengucapakan bahwa tak ada lagi hubungan yang harus dipertahankan, lalu aku pun pergi menghampiri kawanku.
            Setelah kejadian itu, aku memblokir semua kontak Hans. Tak lupa pula aku juga menyuruh temanku untuk memblokir nomor Hans. Dan aku memilih untuk lebih awal berangkat ke kampus dan pulang ke kos agar Hans tidak menghampiriku. Beberapa kali tetap saja Hans menungguku di depan kos, bahkan pernah sesekali mendatangi kampusku. Untungnya aku tak pernah bertemu dengannya. Beberapa bulan kemudian aku memilih pindah kos bersama kawanku. Aku sangat lega bisa terbebas darinya dan bisa lebih fokus pada kuliahku. Aku menjadi diriku kembali yang melakukan sesuatu tanpa ada paksaan, tanpa ada yang mengatur, tanpa melapor, dan menyiksa batinku. Tak apa semua yang kulakukan untuk Hans dibalas dengan adanya orang ketiga di antara kami, setidaknya Tuhan telah menyelamatkanku dari hubungan yang sudah di luar batas kewajaran ini. 

                       


Selasa, 02 Juni 2020

MASIH PANTASKAH SEBUAH KESEMPATAN UNTUKMU?



Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan? Bukankah ada kemungkinan peluang seseorang untuk berubah? Mengapa harus memilih egois? Bukankah semua orang memiliki kesalahan di masa lalu? Bukankah sampai detik ini aku juga masih memikirkannya dan bahkan masih menunggunya?  Seketika pikiran itu terngiang-ngiang di kepalaku. Sambil kutatap layar ponselku yang berisi pesan panjang dari Rans, lelaki berzodiak Leo itu kembali datang kepadaku. Seperti biasa, Rans tak pernah melupakan kata maaf di awal percakapannya. Kemudian dibubuhi kalimat penyesalan-penyesalannya terhadapku. Tak lupa pula selalu diakhiri dengan kalimat “Masihkah ada kesempatan untukku, Reina?” 
Ini ketiga kalinya Rans datang lagi kepadaku. Jadi bagaimana mungkin aku tidak melupakan gaya Rans yang ingin kembali ke pelukanku? Jarak usiaku dengan Rans memang hanya beberapa hari saja. Itulah mengapa semua sifat kami banyak memiliki persamaan. Kami yang sama-sama egois. Kami yang sama-sama keras kepala. Kami yang sama-sama hanya mau dimengerti, bukan saling mengerti. Itu hanya beberapa sifat kami yang paling menonjol, selebihnya tak perlu lagi kujelaskan. Karena persamaan sifat kami inilah yang tidak pernah membuat hubungan kisah cinta kami berjalan lama seperti orang-orang di sekitarku yang memadu kisah cintanya sangat lama kemudian berakhir dipernikahan.
Pesan panjang dari Rans berlanjut dengan argumen-argumen kami yang tidak ada henti-hentinya untuk dibahas hingga akhirnya kami memilih lebih baik untuk bertemu. Lelaki empat tahun lalu yang kutemui ini masih tetap sama. Bau parfumnya yang khas, mata mungilnya yang dulu selalu kutatap diam-diam, pori-pori besar di wajahnya dengan mimik cuek saat menatap orang lain, gaya khas berpakaian Rans yang selalu simple, cukup dengan memakai hoodie abu dengan celana tiga perempat polosnya itu. Sepanjang jalan kami bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing selama hubungan kami berakhir. Dan lagi-lagi aku merasakan kembali titik ternyaman saat di dekat Rans. Oh, Tuhan, mengapa Rans harus datang lagi di kehidupanku?
Akhirnya aku menerima permintaan Rans untuk sama-sama memperbaiki hubungan kami lagi. Banyak perubahan Rans yang akhirnya membuatku kembali bersamanya. Rans yang sekarang jauh lebih dewasa dan terbuka kepadaku. Lebih banyak memiliki sejuta perhatian yang membuat hatiku lagi-lagi luluh kepadanya. Tetapi ada perubahan yang belum bisa aku terima. Sebuah benda panjang yang beberapa kali dihisapnya selama pertemuan kami. Jujur, mencium aromanya saja aku sudah tidak tahan. Tetapi Rans berkata dia seperti ini karena pergaulan di lingkungan kerjanya. “Aku coba kurangin pelan-pelan ya, Sayang ?” ucap manja Rans kepadaku. Lagi-lagi aku tak bisa berkomentar apa-apa.
Sebulan sudah hubungan kami, masih dipenuhi warna-warni indahnya jatuh cinta lagi. Hampir setiap hari aku dan Rans bertemu. Dari bertemu untuk makan bersama bahkan hanya sekedar jalan-jalan saja. Ranslah yang selalu meminta untuk bertemu dengan alasan rindu denganku. Rans juga yang ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganku ke jenjang pernikahan. Tetapi entah mengapa aku masih belum mau mengenalkan Rans ke orang tuaku. Aku takut Rans akan pergi meninggalkanku lagi. Takut Rans menemukan orang yang lebih baik dariku. Ah! Lagi-lagi pikiran-pikiran kotorku tentang Rans muncul.
Aku mengagumi Rans karena Rans selalu menghargaiku sebagai perempuan. Dia tak pernah menuntutku untuk menjadi seperti orang lain. Dia hanya selalu meminta sebuah pelukan hangat, tidak lebih dari itu. Itulah mengapa aku masih menunggunya dan memberikan kesempatan padanya sampai saat ini. Bahkan setiap Rans mengantarkanku pulang hanya diakhiri dengan lambaian tangan halusnya dan ucapan salam dari bibir kecilnya itu. Hubungan kami yang lalu pupus pun hanya dikarenakan sifat kami yang belum dewasa pada saat itu. Sungguh aku benar-benar ingin bersamanya lebih lama lagi.
Minggu pagi kubaca sebuah pesan Rans yang mengatakan Rans ingin aku menemaninya makan di rumahnya dikarenakan kedua orang tuanya sedang ke luar kota. Maklum saja, karena sejak kecil Rans selalu di manja oleh kedua orang tuanya. Memang tak ada lagi orang yang perlu dimanja selain Rans seorang. Aku menolak dengan alasan aku ingin ke rumah Rans saat orang tua Rans juga ada di rumah. Rasa penasaranku dari dulu memang bergejolak untuk menemui ibu Rans. Aku ingin bertemu dengan ibu yang melahirkan lelaki yang kucintai saat ini. “Yasudah kalau tidak mau tidak apa-apa.” balas Rans. Beberapa menit kemudian Rans mengirimkanku pesan lagi untuk menemaninya. Akhirnya aku mengiyakan dengan syarat hanya menemani saja, bukan untuk ada hal-hal lainnya.
Rans kemudian datang menjemputku di lorong-lorong gang sempit yang hanya bisa bermuat kendaraan beroda dua. Ini untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah kekasihku. Di sisi lain aku sangat takut, tetapi aku tetap percaya bahwa Rans akan selalu menghargaiku sebagai wanitanya. Aku berhayal rumah tingkat dua mungil milik keluarga Rans bisa jadi contoh untuk desain rumah keluarga kecil kami nantinya. Aku duduk di ruang tamu dan menatap lama sebuah foto Rans ketika kecil. Aku semakin mencintai bocah kecil di dalam foto ini. Rans pun datang lalu duduk di sampingku sambil memakan dengan lahap makanan yang dibelinya ketika menjemputku tadi.
Seusai makan, Rans beranjak ke kamarnya dan mengatakan kepadaku bahwa ia mengantuk. Aku menyuruhnya untuk tidur dan aku pun masih tetap di ruang tamu menikmati suasana rumah minimalis idamanku ketika aku menikah nantinya. Beberapa jam kemudian Rans mengirimiku pesan untuk menemaninya di kamar dengan alasan tak ada teman. Baiklah! aku mengiyakan permintaan Rans, toh hanya menemani saja. Tentu saja dengan pintu kamar dan pintu loteng yang terbuka. Untuk pertama kalinya aku memasuki kamar Rans. Hanya meilhat dari kamarnya aku megakui Rans memang lelaki rapi dan bersih yang pernah kukenal.
Rans tertidur dengan pulasnya dan aku fokus dengan drama favoritku yang baru ku-download beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba Rans bersuara pelan dengan manjanya  mengatakan padaku untuk memeluknya dan tidak usah bermain handphone. Lalu kupeluk Rans dari belakang sambil kuusap kepalanya agar Rans tertidur lagi. Beberapa menit kemudian Rans mengahadap ke arahku. Menatapku dengan tajam, tiba-tiba ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seketika langsung mencium pipiku dengan penuh nafsu. Kemudian bibirnya menyentuh ke arah bibirku. Lalu tangan kanannya yang semakin berani membuka kancing bagian atas kemejaku. Sementara tangan kirinya digunakan untuk meraih tanganku dan diletakkan tangganku tepat di sesuatu milik Rans yang terasa kencang. Spontan aku langsung menghindar dan duduk menjauh darinya. Aku turun ke ruang tamu meraih tas kecilku dan seketika air mata membasahi pipiku hingga akhirnya mataku memerah seperti ketika mama menyuruhku untuk mengupas bawang merah. Aku naik, memanggilnya untuk mengantarkanku pulang. Rans hanya diam dan langsung mengambil jaket abu kesayangannya itu dan mengiyakan untuk mengantarkanku pulang.
Di sepanjang perjalanan, Rans hanya berucap “Kamu ingin makan apa?” kujawab dengan nada sinis bahwa aku tak ingin mengobrol dengannya. Aku tak menyangka orang yang selama ini kupercaya, yang selalu menghargaiku sebagai wanitanya telah merusak kepercayaanku kepadanya. Aku hanya bisa menangis sambil mengingat perbuatan yang Rans lakukan padaku. Dan tak ada kata maaf yang terucap di mulutnya sampai ia mengantarkanku ke rumah. Lelaki yang selama ini aku banggakan, yang selalu aku ikuti apa kemauannya, kini telah mengecewakanku. Satu tindakan yang membuatku mengambil sebuah keputusan untuk tidak lagi bertemu dengannya. Aku tak ingin lagi melihat Rans muncul di hadapanku kembali. Untuk saat ini dan kedepannya kupastikan tidak ada lagi setititik lubang kesempatan untuknya.
“AKU KECEWA!” kata terakhir yang terucap di bibir ketusku kepadanya saat aku turun dari motor yang menemani hari-hariku bertemu dengannya. Tak ada lagi lambaian tangan. Tak ada lagi kata salam. Tak ada.












BOY MAAFKAN AKU !


18 Juni 2004.
Anak kecil berkuncir kuda dengan tambahan ikat kepang yang tertata rapi. Begitulah ciri khasku saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku yang sangat menggilai dunia kepramukaan. Aku yang terlalu bersemangat ketika jelajah malam. Dan lebih jelasnya alasan aku menyukai itu semua karena aku hanya ingin lebih lama lagi bersamanya. Boy, lelaki bermata sipit yang ketika tertawa, mata mungilnya seakan tak terlihat. Lelaki yang setiap tahunnya selalu mendapat peringkat 10 besar dan baginya dunia kepramukaan adalah segala untuknya. Lelaki yang tak pernah berbicara lembut, selalu nada kasarnya yang terdengat dari mulutnya terutama kepada perempuan. Wajahnya yang apatis membuat banyak orang tak ingin mengobrol dengannya.
Boy hampir setiap hari membuatku menangis di sekolah. Entah dia mengolok nama orang tuaku, mencoret tanganku, bahkan menempelkan penghapus papan tulis di wajahku. Bukan hanya aku saja, teman perempuanku yang duduk sebangku dengannya juga tak tahan terus duduk bersampingan bersamanya. Bayangkan saja, jika satu bangku dengannya selalu ada penggaris di atas meja yang merupakan batas wilayah Boy dan teman sebangkunya. Jika teman sebangkunya melewati batas, maka Boy akan memukulnya. "Sungguh keterlaluan", kesalku dalam hati. Ada saja tingkah anehnya yang membuatku kesal dengannya karena tempat dudukku tepat di belakang Boy. Sampai pada akhirnya aku mulai menjauhinya. Mungkin Boy sadar aku menjauh darinya tetapi tetap saja dia menjahiliku. Sampai ketika ada suatu kejadian menggemparkan di kelasku, yaitu ketika Alam teman sekelasku yang menyatakan cinta kepadaku dan disaksikan oleh banyak orang. Disitulah Boy tak pernah menggangguku lagi. Jangankan untuk mengganggu, menatap wajahkupun tak pernah.
Setelah kenaikan kelas 4 Sd, akupun memutuskan untuk masuk ekstrakulikuler yang sama dengan Boy. Ternyata tak ada yang merubah apapun. Boy tetap saja tak mempedulikanku. Lama-kelamaan akupun juga bersikap biasa. Hal tersebut berlanjut ketika SMP. Aku dan Boy berbeda sekolah sehingga tak pernah ada lagi komunikasi di antara kami. Sampai ketika aku asyik mengotak-atik  facebook-ku dan kulihat nama Boy meminta pertemanan di akunku dan disitulah awal kami berteman kembali. Hingga tepat di hari ulang tahunku Boy memintaku untuk membuka situs web di komputer. Ternyata isi web tersebut ialah video curahan hati Boy yang selama ini dia pendam kepadaku. Aku tak menyangka Boy sudah menyukaiku sejak kami duduk di bangku SD. Boy selalu menjahiliku karena ia hanya ingin mendapat perhatianku. Boy selalu apatis kepada teman wanitaku karena Boy tak ingin aku cemburu. Dan didetik video terakhir ia mengungkapkan bahwa aku adalah first love Boy dan tak ketinggalan kata cinta darinya.
 “Kamu harus kerja dan sukses, lalu carilah aku” begitulah jawaban singkat dariku. Aku tak menyangka sudah 7 tahun Boy memendam ini semua. Setelah pengakuan cinta Boy, akupun memutuskan untuk putus komunikasi dengannya. Dua tahun berlalu kudengar Boy sudah berkerja bahkan berkuliah. Ia sudah memenuhi apa yang aku mau. Entah mengapa selama dua tahun ini, aku sudah tak mencintainya lagi. Bodohnya aku lebih memilih orang yang lain. Boy lelaki cerdas, mapan, berpendidikan, dan terlebih ibuku menyukainya. Jelas, Boy marah kepadaku, memakiku, bahkan menjelekkan lelaki yang sedang kupacari saat itu. Tetapi aku tetap tak menghiraukannya. Aku memilih William, teman kecilku yang sangat populer di kalangan wanita saat itu. Belum seminggu kami berpacaran, ternyata William bukan lelaki yang baik. Aku menyesal tak mendengarkan kata-kata Boy. Kudapatkan chat Willian dengan mantan kekasihnya yang tak bisa kulanjutkan lagi  untuk membacanya. Di saat itu juga, aku pergi dan memutuskan hubunganku dengan William. Bukan William yang sangat membuatku kecewa, melainkan diriku sendiri. Aku yang lebih memilih William yang tak ku tahu asal usulnya daripada Boy lelaki yang menjadikanku cinta pertamanya selama 7 tahun dan sudah mampu menyanggupi permintaan konyolku.
Waktu tak dapat diulang. Tak mungkin aku memohon kepada Boy untuk menjadikanku kekasihnya. Boy yang sekarang telah dimiliki orang lain yang jauh lebih baik dariku dan lebih menghargai cintanya dibanding aku. Mungkin permintaan maafku tak mampu menghapus rasa sakitnya karena aku telah mempermainkan cintanya. Yang kudapatkan sekarang aku telah menyakiti Boy dan aku pun mendapat balasan setimpal, yaitu telah dihianati oleh William.

LEMBARAN SANTRIKU


Hari menegangkan pun telah berakhir. Mia meletakkan selempang yang tertuliskan embel-embel baru di belakang namanya di antara buku-buku koleksi yang tak begitu banyak. Mia tertuju pada buku hitam itu. Ditatapnya buku catatan usang penuh debu dengan lembaran warna yang sudah sangat tak layak untuk dibaca lagi. Mia masih ingat sekali, buku tersebut didapatnya dari hadiah prestasi belajarnya saat di pondok pesantren tempat ia pernah menimbah ilmu. Buku santri namanya. Buku wajib yang dimiliki setiap santri untuk menulis kembali ceramah-ceramah ustad setiap ba’da magrib. Tak hanya itu, terdapat kosa kata-kosa kata bahasa Arab yang harus dihafalkan untuk disetor setiap minggunya. Di lembar terakhir selalu tertulis judul yang sangat unik sekali dilakukan oleh para santri umumnya, “keperluanku”, begitu tepatnya. Di bawah kata tersebut berisi hal-hal yang dibutuhkan santri tersebut yang akan diberikan kepada orang tua mereka jika datang berkunjung atau akan disampaikan pada saat menelpon orang tua mereka bagi santri yang memiliki kampung halaman jauh dari pondok.
            Sembilan tahun berlalu, ketika kelulusan SMP itu. “Ah, aku sangat membencinya” begitu kata yang terlontar di mulut perempuan penyuka kata-kata mutiara Tere Liye itu. Mia yang harusnya melanjutkan sekolah bersama teman-teman SMP-nya, kini ia ditempatkan orang tuanya di sebuah sekolah pondok pesantren yang terletak di ujung kota tempat ia berada. Mungkin, salah satu alasan orang tuanya menempatkannya di sana dikarenakan nilai UAN yang didapatnya hanya mampu untuk bersekolah di sekolah swasta. Itulah nasib yang harus dirasakan Mia. Mia bukanlah siswa yang bodoh di sekolahnya. Justru, saat duduk di kelas sembilan ia pernah meraih peringat tiga besar. Hanya saja saat UAN Mia tidak seberuntung teman-teman lainnya. Kini ia terpaksa harus menerima tawaran orang tuanya untuk bersekolah di pesantren. “Hanya tiga tahun kok, itupun sama saja kayak kamu sekolah di sekolah umum, cuma bedanya pulang sekolah kamu pulang ke asrama, nanti mama akan menjengukmu seminggu sekali” Begitulah orang tuanya membujuknya.
            Mia menyusuri ruangan sempit terbuat kayu yang sebentar lagi akan rapuh. Di dalamnya penuh dengan deretan-deretan lemari kayu dan di atas lemari tersebut selalu di tempati ember yang tertuliskan berbagai nama dengan tulisan tinta spidol. Para santri di sini menyebutnya “kamar lemari”. Mia harus berjalan berdesak-desakkan dengan santri-santri lainnya karena jam ke datangannya kebetulan merupakan waktu para santri untuk mandi. “Akhirnya sampai juga, ini lemari ana, di sebelah situ lemari anti”, begitu ucap kawan barun Mia yang bernama Ami yang ditemui di depan gerbang pesantren. Mia dan Amipun bersama-sama berkeliling menyusuri tempat-tempat yang ada di pesantren itu. Terdapat mushollah yang jelas terlihat sangat tua. Saung yang merupakan tempat untuk belajar, empang yang merupakan bahasa para santri untuk menyebutkan danau di pesantren, kamar tidur yang dinamai dengan nama-nama istri para nabi, dan lain sebagainya.
Sebulan berlalu begitu sangat lambat. Untuk pertama kalinya Mia merasakan rindu rumah, rindu kawan-kawan SMP-nya, terutama rindu kedua orang tuanya walaupun orang tuanya setiap minggu selalu menjenguknya. Tetap saja ia selalu goncang (sebutan anak pesantren ketika ingin pulang ke rumah). Bagaimana tidak? Setiap pukul tiga subuh Mia sudah harus bangun untuk berebut mengantri kamar mandi belum lagi jika ada temannya yang mandinya sangat lama. Mengantri dengan duduk di atas ember yang di balik atau bahkan berjongkok dengan mata tertutup karena harus berjuang melawan dahsyatnya kantuk. Belum lagi ia wajib berjamaah salat lail (salat tahajjud) dan berjamah salat subuh. Mia tidak bisa lagi merasakan tidur pagi ba’da subuh karna ia harus kerlok, yaitu kerja lokasi para santri yang lokasinya ditentukan oleh dewan santri. Bisa saja kerloknya memungut sampah di kamar mandi, menyapu daun-daun di bawah pohon ketapang atau di sekitaran empang dan lain-lain. 
Sehabis itu, Mia masih harus bergegas ke dapur untuk mengantri mengambil ompreng yang berisikan makanan keseharian santri dan menunya yang selalu diputar-putar. Misal pagi ini dua buah tahu bumbu merah tanpa rasa. Menu siang, telur dadar tipis yang diberi jatah perorang hanya seperempat bagian. Sorenya, sambal goreng tempe tahu yang dipotong kecil-kecil. Belum lagi kalau terlambat ke dapur saat jam lonceng makan berbunyi, bisa-bisa tidak kebagian lauk. Alhasil, yang tersisa hanya nasi kerak, minyak jelantah serta garam saja yang bisa untuk dimakan.
            Tak hanya itu saja, tepat jam tujuh pagi Mia sudah harus berada di depan lapangan untuk apel pagi. Jika telat, Mia akan mendapatkan iqob (sanksi). Sampainya di kelas sebelum pelajaran di mulai, ia harus menyetor hafalan Al-quran satu halaman setiap harinya. Jika tidak menyetor akan disebut sebagai hutang dan akan menjadi dua kali lipat untuk keesokan harinya. Tidak cukup sampai di situ saja, sepulang belajar Mia harus bergegas kembali ke asrama untuk beristirahat dan tidur dengan kasur yang di susun-susun bersampingan seperti orang menjemur ikan asin. Malamnya diisi dengan ceramah ustad atau terkadang diisi dengan membahas pelajararan tentang Nahwu dan shorof.
            “Ah, tiga tahun itu akhirnya sudah kulalui” ditutupnya bagian lembar terakhir buku santri tersebut. Matanya yang tampak lelah karena dipaksa kembali mengingat kenangan lima tahun silam itu. “Terima kasih untuk masa itu, masa di mana aku mendapatkan banyak hal yang harus kulalui dan kuperbaiki lagi untuk ke depannya. Tanpa masa itu aku tidak bisa seperti sekarang ini. Tanpa masa itu aku tidak bisa medapatkan gelar baru di belakang namaku seperti sekarang ini. Walau aku tak tahu apa yang berbeda dan akan terjadi dengan adanya embel-embel ini untukku ke depannya. "Setidaknya aku berterima kasih untuk masa itu yang telah menjadikanku lebih baik lagi untuk sekarang ini”, tulis Mia di lembaran kosong yang masih tersisisa dari buku usang yang sudah tak layak untuk dibaca itu.

DIA LELAKI ITU


Bodohnya aku yang masih saja memikirkannya. “Dia. Lelaki itu.” umpatku dalam hati.
Masjid, adalah tempat saksi bisu kami di kala itu. Saat itu usiaku masih sebelas tahun dan saat itu adalah masa di mana puncak-puncaknya aku ingin mempunyai banyak teman. Caraku menemukan banyak teman cukup dengan bergegas pergi saat azan magrib dan menuju masjid yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Aku cukup mahir untuk berteman, apalagi kepada lawan jenis. Tapi berbeda dengan lelaki ini. Setiap kami berpapasan, aku selalu menunduk di depannya dan begitu juga dengannya. Entah apa yang membuat kami seperti itu. Ingin sekali aku mengobrol manis dengannya, tetapi mulutku selalu kaku tiap kali di hadapannya. Terkadang aku sengaja berjalan sendirian pada pukul delapan malam hanya untuk berpapasan dengannya di gang kecil tempat aku menuju ke pasar dan di depan gang kecil itu pula tempat dia membantu neneknya yang berjualan. Entah sudah berapa kali kulakukan hal itu, tak terlalu sering, hanya saja yang aku inginkan adalah bersua dengannya.
Kamis, tepatnya malam Jumat, kebiasaan yang kulakukan tetaplah sama, salat berjamaah bersama kawan-kawanku ketika magrib tiba. Tetapi hari itu berbeda, teman lelakiku yang tiga tahun lebih muda dari usiaku memanggilku dan memintaku menunggu di depan tempat wudhu sehabis magrib. Aku pun bingung, "Ada apa ini? Apa ada orang yang tak suka denganku hingga ingin menemuiku, ah tidak  mungkin! Aku saja tak pernah berbuat jahat kepada temanku." Gumamku.
Setelah salat magrib, dengan tergesa-gesa, kulipat mukena dan sajadahku dan langsung saja kubawa pergi tanpa basa-basi. Mungkin saja dengan benda itu bisa menjadi senjata untukku jika terjadi sesuatu kepadaku nanti. Perlahan aku berjalan ke depan tempat wudhu itu, tampak pintu hijau yang menutupi seseorang di balik itu, ternyata dia, lelaki itu. Aku memberanikan diri melihatnya. Baru sekarang aku melihat lelaki yang selama ini membuatku takut untuk menatapnya. Kulihat tangannya gemetar, mimik mukanya cemas. Langsung saja aku bertanya, "Ada apa memanggilku datang kemari?" Dia pun menjawab dengan terbata-bata, "Aku sudah lama mengenalmu, maukah kamu menjadi pacarku?" Seketika aku terdiam, memikirkan apakah aku bermimpi atau tidak. Ternyata ini jawaban mengapa aku dan dia sama-sama tak sanggup menatap satu sama lain. Dia jatuh cinta denganku, lebih tepatnya kami saling jatuh cinta.
Terlalu lama aku berdiam diri hingga akhirnya tubuhku seakan menyuruhku untuk pergi. Aku pun langsung pergi tanpa ada jawaban sepatah dua patah dariku. Aku bingung harus mengatakan apa. Ada perasaan bahagia yang aku rasakan, ada juga perasaan kecewa. Dia adalah tetanggaku, aku takut jika mamaku mengetahui kami berpacaran, bisa habis aku. Walaupun mamaku dan ibunya berteman baik, tetap saja orangtuaku melarangku untuk berpacaran sampai aku bisa mencari uang sendiri, begitu nasihatnya. Setelah kepergianku di hari itu, aku bertekad untuk tidak bertemu lagi dengannya. Tak lagi berjalan di gang kecil pukul delapan malam. Sehabis salat magrib pun aku langsung pulang, tidak lagi mampir dan bermain di depan masjid.
Waktu berlalu hingga orang tuaku memutuskan untuk aku berasrama selama tiga tahun. Bila sewaktu-waktu aku pulang ke rumah, kupastikan aku tak pernah melihat lelaki itu. Tapi tidak di hari itu. Memang kudengar isu dari temanku jika dia telah memiliki seorang pacar. Tapi aku mencoba untuk acuh tak acuh. Siang itu aku memberanikan diri untuk pergi ke pasar karena mama yang menyuruhku membeli agar-agar untuk membuatkanku puding yang akan aku bawa ke asrama sore itu. Aku melewati gang lain. Ketika aku berjalan, aku melihat sosok lelaki yang pernah mengungkapkan cintanya untukku. Dia tidak melihatku karena dia membelakangiku. Kulihat dia menelpon dengan tersenyum. Pikirku dalam hati, "Mungkin menelpon kekasihnya.". Seketika aku pun langsung berjalan dengan cepat.
Sejak pertemuan terakhir itu, aku tidak mau lagi mengenalnya. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Lelaki kedua setelah teman SD-ku yg sudah pergi entah ke mana saat aku duduk di bangku kelas tiga SD yang mengucapkan kalimat cinta di hadapanku. Aku tak peduli! Aku ingin mengahapus semua ingatan tentangnya. Mungkin dia lelaki yg tak mau menungguku. Tapi biarlah, toh salahku sendiri yang tak memberikan sepatah pun jawaban dari kalimat cintanya yang sangat singkat itu. Dia, lelaki itu, yang pernah memberiku arti indahnya jatuh cinta dalam diam dan akhirnya harus kukulupakan.