Selasa, 02 Juni 2020

DIA LELAKI ITU


Bodohnya aku yang masih saja memikirkannya. “Dia. Lelaki itu.” umpatku dalam hati.
Masjid, adalah tempat saksi bisu kami di kala itu. Saat itu usiaku masih sebelas tahun dan saat itu adalah masa di mana puncak-puncaknya aku ingin mempunyai banyak teman. Caraku menemukan banyak teman cukup dengan bergegas pergi saat azan magrib dan menuju masjid yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Aku cukup mahir untuk berteman, apalagi kepada lawan jenis. Tapi berbeda dengan lelaki ini. Setiap kami berpapasan, aku selalu menunduk di depannya dan begitu juga dengannya. Entah apa yang membuat kami seperti itu. Ingin sekali aku mengobrol manis dengannya, tetapi mulutku selalu kaku tiap kali di hadapannya. Terkadang aku sengaja berjalan sendirian pada pukul delapan malam hanya untuk berpapasan dengannya di gang kecil tempat aku menuju ke pasar dan di depan gang kecil itu pula tempat dia membantu neneknya yang berjualan. Entah sudah berapa kali kulakukan hal itu, tak terlalu sering, hanya saja yang aku inginkan adalah bersua dengannya.
Kamis, tepatnya malam Jumat, kebiasaan yang kulakukan tetaplah sama, salat berjamaah bersama kawan-kawanku ketika magrib tiba. Tetapi hari itu berbeda, teman lelakiku yang tiga tahun lebih muda dari usiaku memanggilku dan memintaku menunggu di depan tempat wudhu sehabis magrib. Aku pun bingung, "Ada apa ini? Apa ada orang yang tak suka denganku hingga ingin menemuiku, ah tidak  mungkin! Aku saja tak pernah berbuat jahat kepada temanku." Gumamku.
Setelah salat magrib, dengan tergesa-gesa, kulipat mukena dan sajadahku dan langsung saja kubawa pergi tanpa basa-basi. Mungkin saja dengan benda itu bisa menjadi senjata untukku jika terjadi sesuatu kepadaku nanti. Perlahan aku berjalan ke depan tempat wudhu itu, tampak pintu hijau yang menutupi seseorang di balik itu, ternyata dia, lelaki itu. Aku memberanikan diri melihatnya. Baru sekarang aku melihat lelaki yang selama ini membuatku takut untuk menatapnya. Kulihat tangannya gemetar, mimik mukanya cemas. Langsung saja aku bertanya, "Ada apa memanggilku datang kemari?" Dia pun menjawab dengan terbata-bata, "Aku sudah lama mengenalmu, maukah kamu menjadi pacarku?" Seketika aku terdiam, memikirkan apakah aku bermimpi atau tidak. Ternyata ini jawaban mengapa aku dan dia sama-sama tak sanggup menatap satu sama lain. Dia jatuh cinta denganku, lebih tepatnya kami saling jatuh cinta.
Terlalu lama aku berdiam diri hingga akhirnya tubuhku seakan menyuruhku untuk pergi. Aku pun langsung pergi tanpa ada jawaban sepatah dua patah dariku. Aku bingung harus mengatakan apa. Ada perasaan bahagia yang aku rasakan, ada juga perasaan kecewa. Dia adalah tetanggaku, aku takut jika mamaku mengetahui kami berpacaran, bisa habis aku. Walaupun mamaku dan ibunya berteman baik, tetap saja orangtuaku melarangku untuk berpacaran sampai aku bisa mencari uang sendiri, begitu nasihatnya. Setelah kepergianku di hari itu, aku bertekad untuk tidak bertemu lagi dengannya. Tak lagi berjalan di gang kecil pukul delapan malam. Sehabis salat magrib pun aku langsung pulang, tidak lagi mampir dan bermain di depan masjid.
Waktu berlalu hingga orang tuaku memutuskan untuk aku berasrama selama tiga tahun. Bila sewaktu-waktu aku pulang ke rumah, kupastikan aku tak pernah melihat lelaki itu. Tapi tidak di hari itu. Memang kudengar isu dari temanku jika dia telah memiliki seorang pacar. Tapi aku mencoba untuk acuh tak acuh. Siang itu aku memberanikan diri untuk pergi ke pasar karena mama yang menyuruhku membeli agar-agar untuk membuatkanku puding yang akan aku bawa ke asrama sore itu. Aku melewati gang lain. Ketika aku berjalan, aku melihat sosok lelaki yang pernah mengungkapkan cintanya untukku. Dia tidak melihatku karena dia membelakangiku. Kulihat dia menelpon dengan tersenyum. Pikirku dalam hati, "Mungkin menelpon kekasihnya.". Seketika aku pun langsung berjalan dengan cepat.
Sejak pertemuan terakhir itu, aku tidak mau lagi mengenalnya. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Lelaki kedua setelah teman SD-ku yg sudah pergi entah ke mana saat aku duduk di bangku kelas tiga SD yang mengucapkan kalimat cinta di hadapanku. Aku tak peduli! Aku ingin mengahapus semua ingatan tentangnya. Mungkin dia lelaki yg tak mau menungguku. Tapi biarlah, toh salahku sendiri yang tak memberikan sepatah pun jawaban dari kalimat cintanya yang sangat singkat itu. Dia, lelaki itu, yang pernah memberiku arti indahnya jatuh cinta dalam diam dan akhirnya harus kukulupakan.