Bodohnya
aku yang
masih saja memikirkannya.
“Dia. Lelaki
itu.”
umpatku dalam hati.
Masjid, adalah tempat saksi bisu kami di kala
itu. Saat itu
usiaku
masih sebelas
tahun dan saat itu adalah masa di
mana puncak-puncaknya aku ingin mempunyai banyak teman. Caraku menemukan
banyak teman cukup dengan bergegas pergi saat azan magrib dan menuju masjid yang kebetulan tak jauh
dari rumahku. Aku cukup mahir untuk berteman, apalagi kepada lawan jenis. Tapi
berbeda dengan lelaki ini. Setiap kami berpapasan, aku selalu menunduk di depannya dan
begitu juga dengannya. Entah apa yang
membuat kami seperti itu. Ingin sekali aku mengobrol manis dengannya, tetapi mulutku selalu kaku tiap kali di hadapannya.
Terkadang aku sengaja berjalan sendirian pada pukul delapan
malam hanya untuk berpapasan dengannya di gang kecil tempat aku menuju ke pasar
dan di depan gang kecil itu pula tempat dia membantu neneknya yang berjualan. Entah sudah berapa kali
kulakukan hal itu, tak terlalu
sering, hanya saja yang aku inginkan adalah bersua dengannya.
Kamis,
tepatnya malam Jumat, kebiasaan yang kulakukan tetaplah sama, salat berjamaah bersama kawan-kawanku ketika magrib tiba. Tetapi hari itu berbeda, teman lelakiku yang tiga
tahun lebih muda dari usiaku memanggilku dan memintaku menunggu di depan tempat
wudhu sehabis magrib. Aku pun
bingung,
"Ada apa ini? Apa ada orang yang
tak suka denganku hingga ingin menemuiku, ah tidak mungkin! Aku saja tak pernah berbuat jahat
kepada temanku."
Gumamku.
Setelah
salat magrib,
dengan tergesa-gesa,
kulipat mukena dan sajadahku
dan langsung saja kubawa pergi tanpa basa-basi. Mungkin saja dengan benda itu bisa menjadi senjata untukku jika terjadi sesuatu kepadaku
nanti. Perlahan aku berjalan ke depan tempat wudhu itu, tampak pintu hijau yang menutupi seseorang di balik itu, ternyata dia, lelaki itu. Aku memberanikan diri
melihatnya. Baru sekarang aku melihat lelaki yang selama ini membuatku takut untuk
menatapnya. Kulihat tangannya gemetar, mimik mukanya cemas. Langsung saja aku
bertanya,
"Ada apa memanggilku datang kemari?" Dia
pun menjawab dengan terbata-bata,
"Aku sudah lama
mengenalmu, maukah kamu menjadi pacarku?" Seketika aku terdiam, memikirkan apakah aku bermimpi atau
tidak. Ternyata ini jawaban mengapa aku dan dia sama-sama tak sanggup menatap satu sama lain. Dia jatuh cinta
denganku,
lebih tepatnya kami saling jatuh cinta.
Terlalu
lama aku berdiam diri hingga akhirnya
tubuhku seakan menyuruhku untuk pergi. Aku pun
langsung pergi tanpa ada jawaban sepatah dua patah dariku. Aku bingung harus
mengatakan apa. Ada perasaan bahagia yang
aku rasakan, ada juga perasaan
kecewa. Dia adalah tetanggaku, aku takut jika mamaku mengetahui kami berpacaran, bisa habis aku. Walaupun mamaku dan ibunya berteman baik, tetap saja orangtuaku melarangku untuk
berpacaran sampai aku
bisa mencari uang sendiri, begitu nasihatnya. Setelah
kepergianku di hari itu, aku
bertekad untuk tidak bertemu lagi dengannya. Tak lagi berjalan di gang kecil
pukul delapan
malam. Sehabis salat magrib pun aku langsung pulang, tidak lagi mampir dan bermain di depan masjid.
Waktu
berlalu hingga orang tuaku memutuskan untuk aku berasrama selama tiga tahun. Bila sewaktu-waktu aku pulang ke rumah, kupastikan aku tak pernah melihat lelaki itu.
Tapi tidak di hari itu. Memang
kudengar isu dari temanku jika dia telah memiliki seorang
pacar. Tapi aku
mencoba untuk acuh tak acuh. Siang itu aku memberanikan diri untuk pergi ke pasar karena mama yang menyuruhku membeli agar-agar untuk membuatkanku puding yang akan aku bawa ke asrama sore itu. Aku melewati
gang lain.
Ketika aku berjalan, aku melihat sosok lelaki yang pernah mengungkapkan cintanya untukku.
Dia tidak melihatku karena
dia membelakangiku. Kulihat dia menelpon dengan tersenyum. Pikirku dalam hati, "Mungkin menelpon kekasihnya.". Seketika aku pun langsung berjalan dengan cepat.
Sejak
pertemuan terakhir itu,
aku tidak mau lagi mengenalnya. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Lelaki
kedua setelah teman SD-ku
yg sudah pergi entah ke mana
saat aku duduk di bangku
kelas tiga
SD yang
mengucapkan kalimat cinta di hadapanku. Aku tak peduli! Aku ingin mengahapus semua ingatan
tentangnya. Mungkin dia lelaki yg tak mau menungguku. Tapi biarlah, toh salahku sendiri yang tak memberikan sepatah pun jawaban dari kalimat cintanya yang
sangat singkat
itu. Dia,
lelaki itu, yang pernah memberiku
arti
indahnya jatuh cinta dalam diam dan akhirnya harus kukulupakan.