Selasa, 02 Juni 2020

LEMBARAN SANTRIKU


Hari menegangkan pun telah berakhir. Mia meletakkan selempang yang tertuliskan embel-embel baru di belakang namanya di antara buku-buku koleksi yang tak begitu banyak. Mia tertuju pada buku hitam itu. Ditatapnya buku catatan usang penuh debu dengan lembaran warna yang sudah sangat tak layak untuk dibaca lagi. Mia masih ingat sekali, buku tersebut didapatnya dari hadiah prestasi belajarnya saat di pondok pesantren tempat ia pernah menimbah ilmu. Buku santri namanya. Buku wajib yang dimiliki setiap santri untuk menulis kembali ceramah-ceramah ustad setiap ba’da magrib. Tak hanya itu, terdapat kosa kata-kosa kata bahasa Arab yang harus dihafalkan untuk disetor setiap minggunya. Di lembar terakhir selalu tertulis judul yang sangat unik sekali dilakukan oleh para santri umumnya, “keperluanku”, begitu tepatnya. Di bawah kata tersebut berisi hal-hal yang dibutuhkan santri tersebut yang akan diberikan kepada orang tua mereka jika datang berkunjung atau akan disampaikan pada saat menelpon orang tua mereka bagi santri yang memiliki kampung halaman jauh dari pondok.
            Sembilan tahun berlalu, ketika kelulusan SMP itu. “Ah, aku sangat membencinya” begitu kata yang terlontar di mulut perempuan penyuka kata-kata mutiara Tere Liye itu. Mia yang harusnya melanjutkan sekolah bersama teman-teman SMP-nya, kini ia ditempatkan orang tuanya di sebuah sekolah pondok pesantren yang terletak di ujung kota tempat ia berada. Mungkin, salah satu alasan orang tuanya menempatkannya di sana dikarenakan nilai UAN yang didapatnya hanya mampu untuk bersekolah di sekolah swasta. Itulah nasib yang harus dirasakan Mia. Mia bukanlah siswa yang bodoh di sekolahnya. Justru, saat duduk di kelas sembilan ia pernah meraih peringat tiga besar. Hanya saja saat UAN Mia tidak seberuntung teman-teman lainnya. Kini ia terpaksa harus menerima tawaran orang tuanya untuk bersekolah di pesantren. “Hanya tiga tahun kok, itupun sama saja kayak kamu sekolah di sekolah umum, cuma bedanya pulang sekolah kamu pulang ke asrama, nanti mama akan menjengukmu seminggu sekali” Begitulah orang tuanya membujuknya.
            Mia menyusuri ruangan sempit terbuat kayu yang sebentar lagi akan rapuh. Di dalamnya penuh dengan deretan-deretan lemari kayu dan di atas lemari tersebut selalu di tempati ember yang tertuliskan berbagai nama dengan tulisan tinta spidol. Para santri di sini menyebutnya “kamar lemari”. Mia harus berjalan berdesak-desakkan dengan santri-santri lainnya karena jam ke datangannya kebetulan merupakan waktu para santri untuk mandi. “Akhirnya sampai juga, ini lemari ana, di sebelah situ lemari anti”, begitu ucap kawan barun Mia yang bernama Ami yang ditemui di depan gerbang pesantren. Mia dan Amipun bersama-sama berkeliling menyusuri tempat-tempat yang ada di pesantren itu. Terdapat mushollah yang jelas terlihat sangat tua. Saung yang merupakan tempat untuk belajar, empang yang merupakan bahasa para santri untuk menyebutkan danau di pesantren, kamar tidur yang dinamai dengan nama-nama istri para nabi, dan lain sebagainya.
Sebulan berlalu begitu sangat lambat. Untuk pertama kalinya Mia merasakan rindu rumah, rindu kawan-kawan SMP-nya, terutama rindu kedua orang tuanya walaupun orang tuanya setiap minggu selalu menjenguknya. Tetap saja ia selalu goncang (sebutan anak pesantren ketika ingin pulang ke rumah). Bagaimana tidak? Setiap pukul tiga subuh Mia sudah harus bangun untuk berebut mengantri kamar mandi belum lagi jika ada temannya yang mandinya sangat lama. Mengantri dengan duduk di atas ember yang di balik atau bahkan berjongkok dengan mata tertutup karena harus berjuang melawan dahsyatnya kantuk. Belum lagi ia wajib berjamaah salat lail (salat tahajjud) dan berjamah salat subuh. Mia tidak bisa lagi merasakan tidur pagi ba’da subuh karna ia harus kerlok, yaitu kerja lokasi para santri yang lokasinya ditentukan oleh dewan santri. Bisa saja kerloknya memungut sampah di kamar mandi, menyapu daun-daun di bawah pohon ketapang atau di sekitaran empang dan lain-lain. 
Sehabis itu, Mia masih harus bergegas ke dapur untuk mengantri mengambil ompreng yang berisikan makanan keseharian santri dan menunya yang selalu diputar-putar. Misal pagi ini dua buah tahu bumbu merah tanpa rasa. Menu siang, telur dadar tipis yang diberi jatah perorang hanya seperempat bagian. Sorenya, sambal goreng tempe tahu yang dipotong kecil-kecil. Belum lagi kalau terlambat ke dapur saat jam lonceng makan berbunyi, bisa-bisa tidak kebagian lauk. Alhasil, yang tersisa hanya nasi kerak, minyak jelantah serta garam saja yang bisa untuk dimakan.
            Tak hanya itu saja, tepat jam tujuh pagi Mia sudah harus berada di depan lapangan untuk apel pagi. Jika telat, Mia akan mendapatkan iqob (sanksi). Sampainya di kelas sebelum pelajaran di mulai, ia harus menyetor hafalan Al-quran satu halaman setiap harinya. Jika tidak menyetor akan disebut sebagai hutang dan akan menjadi dua kali lipat untuk keesokan harinya. Tidak cukup sampai di situ saja, sepulang belajar Mia harus bergegas kembali ke asrama untuk beristirahat dan tidur dengan kasur yang di susun-susun bersampingan seperti orang menjemur ikan asin. Malamnya diisi dengan ceramah ustad atau terkadang diisi dengan membahas pelajararan tentang Nahwu dan shorof.
            “Ah, tiga tahun itu akhirnya sudah kulalui” ditutupnya bagian lembar terakhir buku santri tersebut. Matanya yang tampak lelah karena dipaksa kembali mengingat kenangan lima tahun silam itu. “Terima kasih untuk masa itu, masa di mana aku mendapatkan banyak hal yang harus kulalui dan kuperbaiki lagi untuk ke depannya. Tanpa masa itu aku tidak bisa seperti sekarang ini. Tanpa masa itu aku tidak bisa medapatkan gelar baru di belakang namaku seperti sekarang ini. Walau aku tak tahu apa yang berbeda dan akan terjadi dengan adanya embel-embel ini untukku ke depannya. "Setidaknya aku berterima kasih untuk masa itu yang telah menjadikanku lebih baik lagi untuk sekarang ini”, tulis Mia di lembaran kosong yang masih tersisisa dari buku usang yang sudah tak layak untuk dibaca itu.