Hari
menegangkan pun telah berakhir. Mia meletakkan selempang yang tertuliskan
embel-embel baru di belakang namanya di antara buku-buku koleksi yang tak
begitu banyak. Mia tertuju pada buku hitam itu. Ditatapnya buku catatan usang
penuh debu dengan lembaran warna yang sudah sangat tak layak untuk dibaca
lagi. Mia masih ingat sekali, buku tersebut didapatnya dari hadiah prestasi
belajarnya saat di pondok pesantren tempat ia pernah menimbah ilmu. Buku santri namanya. Buku wajib yang dimiliki setiap santri untuk menulis kembali ceramah-ceramah
ustad setiap ba’da magrib. Tak hanya itu, terdapat kosa kata-kosa kata bahasa Arab
yang harus dihafalkan untuk disetor setiap minggunya. Di lembar terakhir selalu
tertulis judul yang sangat unik sekali dilakukan oleh para santri umumnya,
“keperluanku”, begitu tepatnya. Di bawah kata tersebut berisi hal-hal yang
dibutuhkan santri tersebut yang akan diberikan kepada orang tua mereka jika datang
berkunjung atau akan disampaikan pada saat menelpon orang tua mereka bagi santri
yang memiliki kampung halaman jauh dari pondok.
Sembilan
tahun berlalu, ketika kelulusan SMP itu. “Ah, aku sangat membencinya” begitu
kata yang terlontar di mulut perempuan penyuka kata-kata mutiara Tere Liye itu.
Mia yang harusnya melanjutkan sekolah bersama teman-teman SMP-nya, kini ia
ditempatkan orang tuanya di sebuah sekolah pondok pesantren yang terletak di
ujung kota tempat ia berada. Mungkin, salah satu alasan orang tuanya
menempatkannya di sana dikarenakan nilai UAN yang didapatnya hanya mampu untuk bersekolah
di sekolah swasta. Itulah nasib yang harus dirasakan Mia. Mia bukanlah siswa
yang bodoh di sekolahnya. Justru, saat duduk di kelas sembilan ia pernah
meraih peringat tiga besar. Hanya saja saat UAN Mia tidak seberuntung
teman-teman lainnya. Kini ia terpaksa harus menerima tawaran orang tuanya untuk
bersekolah di pesantren. “Hanya tiga tahun kok, itupun sama saja kayak kamu
sekolah di sekolah umum, cuma bedanya pulang sekolah kamu pulang ke asrama,
nanti mama akan menjengukmu seminggu sekali” Begitulah orang tuanya
membujuknya.
Mia menyusuri ruangan sempit terbuat kayu yang sebentar
lagi akan rapuh. Di dalamnya penuh dengan deretan-deretan lemari kayu dan di atas
lemari tersebut selalu di tempati ember yang tertuliskan berbagai nama dengan tulisan
tinta spidol. Para santri di sini menyebutnya “kamar lemari”. Mia harus
berjalan berdesak-desakkan dengan santri-santri lainnya karena jam ke datangannya
kebetulan merupakan waktu para santri untuk mandi. “Akhirnya sampai juga, ini
lemari ana, di sebelah situ lemari anti”, begitu ucap kawan barun Mia yang bernama Ami
yang ditemui di depan gerbang pesantren. Mia dan Amipun bersama-sama berkeliling menyusuri tempat-tempat yang
ada di pesantren itu. Terdapat mushollah yang jelas terlihat sangat tua. Saung yang
merupakan tempat untuk belajar, empang yang merupakan bahasa para santri untuk
menyebutkan danau di pesantren, kamar tidur yang dinamai dengan nama-nama istri
para nabi, dan lain sebagainya.
Sebulan
berlalu begitu sangat lambat. Untuk pertama kalinya Mia merasakan rindu rumah,
rindu kawan-kawan SMP-nya, terutama rindu kedua orang tuanya walaupun orang
tuanya setiap minggu selalu menjenguknya. Tetap saja ia selalu goncang (sebutan
anak pesantren ketika ingin pulang ke rumah). Bagaimana tidak?
Setiap pukul tiga subuh Mia sudah harus bangun untuk berebut mengantri kamar
mandi belum lagi jika ada temannya yang mandinya sangat lama. Mengantri
dengan duduk di atas ember yang di balik atau bahkan berjongkok dengan mata
tertutup karena harus berjuang melawan dahsyatnya kantuk. Belum lagi ia wajib berjamaah salat lail (salat tahajjud) dan berjamah salat subuh. Mia tidak bisa
lagi merasakan tidur pagi ba’da subuh karna ia harus kerlok, yaitu kerja lokasi
para santri yang lokasinya ditentukan oleh dewan santri. Bisa saja kerloknya memungut sampah di kamar mandi, menyapu daun-daun di bawah pohon ketapang atau
di sekitaran empang dan lain-lain.
Sehabis
itu, Mia masih harus bergegas ke dapur untuk mengantri mengambil ompreng yang
berisikan makanan keseharian santri dan menunya yang selalu diputar-putar. Misal pagi ini dua buah tahu bumbu merah tanpa rasa. Menu siang, telur dadar tipis yang
diberi jatah perorang hanya seperempat bagian. Sorenya, sambal goreng tempe tahu yang dipotong
kecil-kecil. Belum lagi kalau terlambat ke dapur saat jam lonceng makan
berbunyi, bisa-bisa tidak kebagian lauk. Alhasil, yang tersisa hanya nasi kerak, minyak
jelantah serta garam saja yang bisa untuk dimakan.
Tak hanya itu saja, tepat jam tujuh pagi Mia sudah harus berada
di depan lapangan untuk apel pagi. Jika telat, Mia akan mendapatkan iqob
(sanksi). Sampainya di kelas sebelum pelajaran di mulai, ia harus menyetor hafalan Al-quran satu halaman setiap harinya. Jika tidak menyetor akan disebut sebagai hutang
dan akan menjadi dua kali lipat untuk keesokan harinya. Tidak cukup sampai di situ saja, sepulang belajar Mia harus bergegas kembali ke asrama untuk beristirahat dan tidur
dengan kasur yang di susun-susun bersampingan seperti orang menjemur ikan asin.
Malamnya diisi dengan ceramah ustad atau terkadang diisi dengan membahas
pelajararan tentang Nahwu dan shorof.
“Ah, tiga tahun itu akhirnya sudah kulalui” ditutupnya
bagian lembar terakhir buku santri tersebut. Matanya yang tampak lelah karena
dipaksa kembali mengingat kenangan lima tahun silam itu. “Terima kasih
untuk masa itu, masa di mana aku mendapatkan banyak hal yang harus kulalui dan
kuperbaiki lagi untuk ke depannya. Tanpa masa itu aku tidak bisa seperti
sekarang ini. Tanpa masa itu aku tidak bisa medapatkan gelar baru di belakang
namaku seperti sekarang ini. Walau aku tak tahu apa yang berbeda dan akan
terjadi dengan adanya embel-embel ini untukku ke depannya. "Setidaknya aku berterima
kasih untuk masa itu yang telah menjadikanku lebih baik lagi untuk sekarang
ini”, tulis Mia di lembaran kosong yang masih tersisisa dari buku usang yang sudah tak layak untuk dibaca itu.