Bukankah setiap manusia berhak
mendapatkan kesempatan? Bukankah ada kemungkinan peluang seseorang untuk
berubah? Mengapa harus memilih egois? Bukankah semua orang memiliki kesalahan
di masa lalu? Bukankah sampai detik ini aku juga masih memikirkannya dan bahkan
masih menunggunya? Seketika pikiran itu
terngiang-ngiang di kepalaku. Sambil kutatap layar ponselku yang berisi pesan panjang dari Rans, lelaki berzodiak Leo itu
kembali datang kepadaku. Seperti biasa, Rans tak pernah melupakan kata maaf di
awal percakapannya. Kemudian dibubuhi kalimat penyesalan-penyesalannya
terhadapku. Tak lupa pula selalu diakhiri dengan kalimat “Masihkah ada
kesempatan untukku, Reina?”
Ini ketiga kalinya Rans datang
lagi kepadaku. Jadi bagaimana mungkin aku tidak melupakan gaya Rans yang ingin
kembali ke pelukanku? Jarak usiaku dengan Rans memang hanya beberapa hari saja.
Itulah mengapa semua sifat kami banyak memiliki persamaan. Kami yang sama-sama
egois. Kami yang sama-sama keras kepala. Kami yang sama-sama hanya mau
dimengerti, bukan saling mengerti. Itu hanya beberapa sifat kami yang paling
menonjol, selebihnya tak perlu lagi kujelaskan. Karena persamaan sifat kami
inilah yang tidak pernah membuat hubungan kisah cinta kami berjalan lama seperti
orang-orang di sekitarku yang memadu kisah cintanya sangat lama kemudian
berakhir dipernikahan.
Pesan panjang dari Rans
berlanjut dengan argumen-argumen kami yang tidak ada henti-hentinya untuk
dibahas hingga akhirnya kami memilih lebih baik untuk bertemu. Lelaki empat
tahun lalu yang kutemui ini masih tetap sama. Bau parfumnya yang khas, mata
mungilnya yang dulu selalu kutatap diam-diam, pori-pori besar di wajahnya
dengan mimik cuek saat menatap orang lain, gaya khas berpakaian Rans yang selalu
simple, cukup dengan memakai hoodie abu dengan celana tiga perempat polosnya
itu. Sepanjang jalan kami bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing
selama hubungan kami berakhir. Dan lagi-lagi aku merasakan kembali titik
ternyaman saat di dekat Rans. Oh, Tuhan, mengapa Rans harus datang lagi di kehidupanku?
Akhirnya aku menerima
permintaan Rans untuk sama-sama memperbaiki hubungan kami lagi. Banyak
perubahan Rans yang akhirnya membuatku kembali bersamanya. Rans yang sekarang
jauh lebih dewasa dan terbuka kepadaku. Lebih banyak memiliki sejuta perhatian
yang membuat hatiku lagi-lagi luluh kepadanya. Tetapi ada perubahan yang belum
bisa aku terima. Sebuah benda panjang yang beberapa kali dihisapnya selama
pertemuan kami. Jujur, mencium aromanya saja aku sudah tidak tahan. Tetapi Rans
berkata dia seperti ini karena pergaulan di lingkungan kerjanya. “Aku coba
kurangin pelan-pelan ya, Sayang ?” ucap manja Rans kepadaku. Lagi-lagi aku tak
bisa berkomentar apa-apa.
Sebulan sudah hubungan kami,
masih dipenuhi warna-warni indahnya jatuh cinta lagi. Hampir setiap hari aku
dan Rans bertemu. Dari bertemu untuk makan bersama bahkan hanya sekedar
jalan-jalan saja. Ranslah yang selalu meminta untuk bertemu dengan alasan rindu
denganku. Rans juga yang ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganku ke
jenjang pernikahan. Tetapi entah mengapa aku masih belum mau mengenalkan Rans
ke orang tuaku. Aku takut Rans akan pergi meninggalkanku lagi. Takut Rans
menemukan orang yang lebih baik dariku. Ah! Lagi-lagi pikiran-pikiran kotorku
tentang Rans muncul.
Aku mengagumi Rans karena Rans
selalu menghargaiku sebagai perempuan. Dia tak pernah menuntutku untuk menjadi
seperti orang lain. Dia hanya selalu meminta sebuah pelukan hangat, tidak lebih
dari itu. Itulah mengapa aku masih menunggunya dan memberikan kesempatan
padanya sampai saat ini. Bahkan setiap Rans mengantarkanku pulang hanya
diakhiri dengan lambaian tangan halusnya dan ucapan salam dari bibir kecilnya
itu. Hubungan kami yang lalu pupus pun hanya dikarenakan sifat kami yang belum
dewasa pada saat itu. Sungguh aku benar-benar ingin bersamanya lebih lama lagi.
Minggu pagi kubaca sebuah pesan
Rans yang mengatakan Rans ingin aku menemaninya makan di rumahnya dikarenakan
kedua orang tuanya sedang ke luar kota. Maklum saja, karena sejak kecil Rans
selalu di manja oleh kedua orang tuanya. Memang tak ada lagi orang yang perlu
dimanja selain Rans seorang. Aku menolak dengan alasan aku ingin ke rumah Rans saat
orang tua Rans juga ada di rumah. Rasa penasaranku dari dulu memang bergejolak
untuk menemui ibu Rans. Aku ingin bertemu dengan ibu yang melahirkan lelaki
yang kucintai saat ini. “Yasudah kalau tidak mau tidak apa-apa.” balas Rans.
Beberapa menit kemudian Rans mengirimkanku pesan lagi untuk menemaninya. Akhirnya
aku mengiyakan dengan syarat hanya menemani saja, bukan untuk ada hal-hal
lainnya.
Rans kemudian datang
menjemputku di lorong-lorong gang sempit yang hanya bisa bermuat kendaraan
beroda dua. Ini untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah kekasihku. Di sisi
lain aku sangat takut, tetapi aku tetap percaya bahwa Rans akan selalu menghargaiku
sebagai wanitanya. Aku berhayal rumah tingkat dua mungil milik keluarga Rans
bisa jadi contoh untuk desain rumah keluarga kecil kami nantinya. Aku duduk di
ruang tamu dan menatap lama sebuah foto Rans ketika kecil. Aku semakin
mencintai bocah kecil di dalam foto ini. Rans pun datang lalu duduk di sampingku
sambil memakan dengan lahap makanan yang dibelinya ketika menjemputku tadi.
Seusai makan, Rans beranjak ke
kamarnya dan mengatakan kepadaku bahwa ia mengantuk. Aku menyuruhnya untuk
tidur dan aku pun masih tetap di ruang tamu menikmati suasana rumah minimalis
idamanku ketika aku menikah nantinya. Beberapa jam kemudian Rans mengirimiku
pesan untuk menemaninya di kamar dengan alasan tak ada teman. Baiklah! aku
mengiyakan permintaan Rans, toh hanya menemani saja. Tentu saja dengan pintu
kamar dan pintu loteng yang terbuka. Untuk pertama kalinya aku memasuki kamar
Rans. Hanya meilhat dari kamarnya aku megakui Rans memang lelaki rapi dan
bersih yang pernah kukenal.
Rans tertidur dengan pulasnya
dan aku fokus dengan drama favoritku yang baru ku-download beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba Rans bersuara pelan
dengan manjanya mengatakan padaku untuk
memeluknya dan tidak usah bermain handphone.
Lalu kupeluk Rans dari belakang sambil kuusap kepalanya agar Rans tertidur
lagi. Beberapa menit kemudian Rans mengahadap ke arahku. Menatapku dengan
tajam, tiba-tiba ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seketika langsung mencium
pipiku dengan penuh nafsu. Kemudian bibirnya menyentuh ke arah bibirku. Lalu tangan kanannya yang semakin berani membuka kancing bagian atas kemejaku. Sementara tangan kirinya digunakan untuk meraih tanganku dan diletakkan tangganku tepat di sesuatu milik Rans yang terasa kencang. Spontan aku langsung
menghindar dan duduk menjauh darinya. Aku turun ke ruang tamu meraih tas
kecilku dan seketika air mata membasahi pipiku hingga akhirnya mataku memerah
seperti ketika mama menyuruhku untuk mengupas bawang merah. Aku naik,
memanggilnya untuk mengantarkanku pulang. Rans hanya diam dan langsung
mengambil jaket abu kesayangannya itu dan mengiyakan untuk mengantarkanku
pulang.
Di sepanjang perjalanan, Rans
hanya berucap “Kamu ingin makan apa?” kujawab dengan nada sinis bahwa aku tak
ingin mengobrol dengannya. Aku tak menyangka orang yang selama ini kupercaya,
yang selalu menghargaiku sebagai wanitanya telah merusak kepercayaanku
kepadanya. Aku hanya bisa menangis sambil mengingat perbuatan yang Rans lakukan
padaku. Dan tak ada kata maaf yang terucap di mulutnya sampai ia mengantarkanku
ke rumah. Lelaki yang selama ini aku banggakan, yang selalu aku ikuti apa
kemauannya, kini telah mengecewakanku. Satu tindakan yang membuatku mengambil
sebuah keputusan untuk tidak lagi bertemu dengannya. Aku tak ingin lagi melihat
Rans muncul di hadapanku kembali. Untuk saat ini dan kedepannya kupastikan
tidak ada lagi setititik lubang kesempatan untuknya.
“AKU KECEWA!” kata terakhir
yang terucap di bibir ketusku kepadanya saat aku turun dari motor yang menemani
hari-hariku bertemu dengannya. Tak ada lagi lambaian tangan. Tak ada lagi kata
salam. Tak ada.