Selasa, 02 Juni 2020

MASIH PANTASKAH SEBUAH KESEMPATAN UNTUKMU?



Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan? Bukankah ada kemungkinan peluang seseorang untuk berubah? Mengapa harus memilih egois? Bukankah semua orang memiliki kesalahan di masa lalu? Bukankah sampai detik ini aku juga masih memikirkannya dan bahkan masih menunggunya?  Seketika pikiran itu terngiang-ngiang di kepalaku. Sambil kutatap layar ponselku yang berisi pesan panjang dari Rans, lelaki berzodiak Leo itu kembali datang kepadaku. Seperti biasa, Rans tak pernah melupakan kata maaf di awal percakapannya. Kemudian dibubuhi kalimat penyesalan-penyesalannya terhadapku. Tak lupa pula selalu diakhiri dengan kalimat “Masihkah ada kesempatan untukku, Reina?” 
Ini ketiga kalinya Rans datang lagi kepadaku. Jadi bagaimana mungkin aku tidak melupakan gaya Rans yang ingin kembali ke pelukanku? Jarak usiaku dengan Rans memang hanya beberapa hari saja. Itulah mengapa semua sifat kami banyak memiliki persamaan. Kami yang sama-sama egois. Kami yang sama-sama keras kepala. Kami yang sama-sama hanya mau dimengerti, bukan saling mengerti. Itu hanya beberapa sifat kami yang paling menonjol, selebihnya tak perlu lagi kujelaskan. Karena persamaan sifat kami inilah yang tidak pernah membuat hubungan kisah cinta kami berjalan lama seperti orang-orang di sekitarku yang memadu kisah cintanya sangat lama kemudian berakhir dipernikahan.
Pesan panjang dari Rans berlanjut dengan argumen-argumen kami yang tidak ada henti-hentinya untuk dibahas hingga akhirnya kami memilih lebih baik untuk bertemu. Lelaki empat tahun lalu yang kutemui ini masih tetap sama. Bau parfumnya yang khas, mata mungilnya yang dulu selalu kutatap diam-diam, pori-pori besar di wajahnya dengan mimik cuek saat menatap orang lain, gaya khas berpakaian Rans yang selalu simple, cukup dengan memakai hoodie abu dengan celana tiga perempat polosnya itu. Sepanjang jalan kami bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing selama hubungan kami berakhir. Dan lagi-lagi aku merasakan kembali titik ternyaman saat di dekat Rans. Oh, Tuhan, mengapa Rans harus datang lagi di kehidupanku?
Akhirnya aku menerima permintaan Rans untuk sama-sama memperbaiki hubungan kami lagi. Banyak perubahan Rans yang akhirnya membuatku kembali bersamanya. Rans yang sekarang jauh lebih dewasa dan terbuka kepadaku. Lebih banyak memiliki sejuta perhatian yang membuat hatiku lagi-lagi luluh kepadanya. Tetapi ada perubahan yang belum bisa aku terima. Sebuah benda panjang yang beberapa kali dihisapnya selama pertemuan kami. Jujur, mencium aromanya saja aku sudah tidak tahan. Tetapi Rans berkata dia seperti ini karena pergaulan di lingkungan kerjanya. “Aku coba kurangin pelan-pelan ya, Sayang ?” ucap manja Rans kepadaku. Lagi-lagi aku tak bisa berkomentar apa-apa.
Sebulan sudah hubungan kami, masih dipenuhi warna-warni indahnya jatuh cinta lagi. Hampir setiap hari aku dan Rans bertemu. Dari bertemu untuk makan bersama bahkan hanya sekedar jalan-jalan saja. Ranslah yang selalu meminta untuk bertemu dengan alasan rindu denganku. Rans juga yang ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganku ke jenjang pernikahan. Tetapi entah mengapa aku masih belum mau mengenalkan Rans ke orang tuaku. Aku takut Rans akan pergi meninggalkanku lagi. Takut Rans menemukan orang yang lebih baik dariku. Ah! Lagi-lagi pikiran-pikiran kotorku tentang Rans muncul.
Aku mengagumi Rans karena Rans selalu menghargaiku sebagai perempuan. Dia tak pernah menuntutku untuk menjadi seperti orang lain. Dia hanya selalu meminta sebuah pelukan hangat, tidak lebih dari itu. Itulah mengapa aku masih menunggunya dan memberikan kesempatan padanya sampai saat ini. Bahkan setiap Rans mengantarkanku pulang hanya diakhiri dengan lambaian tangan halusnya dan ucapan salam dari bibir kecilnya itu. Hubungan kami yang lalu pupus pun hanya dikarenakan sifat kami yang belum dewasa pada saat itu. Sungguh aku benar-benar ingin bersamanya lebih lama lagi.
Minggu pagi kubaca sebuah pesan Rans yang mengatakan Rans ingin aku menemaninya makan di rumahnya dikarenakan kedua orang tuanya sedang ke luar kota. Maklum saja, karena sejak kecil Rans selalu di manja oleh kedua orang tuanya. Memang tak ada lagi orang yang perlu dimanja selain Rans seorang. Aku menolak dengan alasan aku ingin ke rumah Rans saat orang tua Rans juga ada di rumah. Rasa penasaranku dari dulu memang bergejolak untuk menemui ibu Rans. Aku ingin bertemu dengan ibu yang melahirkan lelaki yang kucintai saat ini. “Yasudah kalau tidak mau tidak apa-apa.” balas Rans. Beberapa menit kemudian Rans mengirimkanku pesan lagi untuk menemaninya. Akhirnya aku mengiyakan dengan syarat hanya menemani saja, bukan untuk ada hal-hal lainnya.
Rans kemudian datang menjemputku di lorong-lorong gang sempit yang hanya bisa bermuat kendaraan beroda dua. Ini untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah kekasihku. Di sisi lain aku sangat takut, tetapi aku tetap percaya bahwa Rans akan selalu menghargaiku sebagai wanitanya. Aku berhayal rumah tingkat dua mungil milik keluarga Rans bisa jadi contoh untuk desain rumah keluarga kecil kami nantinya. Aku duduk di ruang tamu dan menatap lama sebuah foto Rans ketika kecil. Aku semakin mencintai bocah kecil di dalam foto ini. Rans pun datang lalu duduk di sampingku sambil memakan dengan lahap makanan yang dibelinya ketika menjemputku tadi.
Seusai makan, Rans beranjak ke kamarnya dan mengatakan kepadaku bahwa ia mengantuk. Aku menyuruhnya untuk tidur dan aku pun masih tetap di ruang tamu menikmati suasana rumah minimalis idamanku ketika aku menikah nantinya. Beberapa jam kemudian Rans mengirimiku pesan untuk menemaninya di kamar dengan alasan tak ada teman. Baiklah! aku mengiyakan permintaan Rans, toh hanya menemani saja. Tentu saja dengan pintu kamar dan pintu loteng yang terbuka. Untuk pertama kalinya aku memasuki kamar Rans. Hanya meilhat dari kamarnya aku megakui Rans memang lelaki rapi dan bersih yang pernah kukenal.
Rans tertidur dengan pulasnya dan aku fokus dengan drama favoritku yang baru ku-download beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba Rans bersuara pelan dengan manjanya  mengatakan padaku untuk memeluknya dan tidak usah bermain handphone. Lalu kupeluk Rans dari belakang sambil kuusap kepalanya agar Rans tertidur lagi. Beberapa menit kemudian Rans mengahadap ke arahku. Menatapku dengan tajam, tiba-tiba ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seketika langsung mencium pipiku dengan penuh nafsu. Kemudian bibirnya menyentuh ke arah bibirku. Lalu tangan kanannya yang semakin berani membuka kancing bagian atas kemejaku. Sementara tangan kirinya digunakan untuk meraih tanganku dan diletakkan tangganku tepat di sesuatu milik Rans yang terasa kencang. Spontan aku langsung menghindar dan duduk menjauh darinya. Aku turun ke ruang tamu meraih tas kecilku dan seketika air mata membasahi pipiku hingga akhirnya mataku memerah seperti ketika mama menyuruhku untuk mengupas bawang merah. Aku naik, memanggilnya untuk mengantarkanku pulang. Rans hanya diam dan langsung mengambil jaket abu kesayangannya itu dan mengiyakan untuk mengantarkanku pulang.
Di sepanjang perjalanan, Rans hanya berucap “Kamu ingin makan apa?” kujawab dengan nada sinis bahwa aku tak ingin mengobrol dengannya. Aku tak menyangka orang yang selama ini kupercaya, yang selalu menghargaiku sebagai wanitanya telah merusak kepercayaanku kepadanya. Aku hanya bisa menangis sambil mengingat perbuatan yang Rans lakukan padaku. Dan tak ada kata maaf yang terucap di mulutnya sampai ia mengantarkanku ke rumah. Lelaki yang selama ini aku banggakan, yang selalu aku ikuti apa kemauannya, kini telah mengecewakanku. Satu tindakan yang membuatku mengambil sebuah keputusan untuk tidak lagi bertemu dengannya. Aku tak ingin lagi melihat Rans muncul di hadapanku kembali. Untuk saat ini dan kedepannya kupastikan tidak ada lagi setititik lubang kesempatan untuknya.
“AKU KECEWA!” kata terakhir yang terucap di bibir ketusku kepadanya saat aku turun dari motor yang menemani hari-hariku bertemu dengannya. Tak ada lagi lambaian tangan. Tak ada lagi kata salam. Tak ada.